Semua karya terilhami dari kenangannya bersama Kumala. Tempat, makanan, atau lagu kesukaan bertransformasi menjadi goresan di puluhan kanvas.
“Kalau sudah tua nanti, kau akan mengerti. Mengenang itu lebih indah daripada pemberian uang seratus juta,” kata Samsul lagi.

Raka hafal betul tabiatnya. Terkadang ia menemani Pak tua itu hingga larut malam, rela tak pulang. Sebab, ia khawatir meninggalkan Samsul sendirian di sanggar. Kalau sudah keasyikan ia bisa lupa waktu dan mengabaikan kondisi tubuhnya.
“Kalau nggak terjual bukan berarti jelek kan?” tanya Samsul memandangi pemuda itu yang sedari tadi termenung dalam lukisan tersebut. Raka tersadar dan lekas mengangguk menanggapi.
***
Tidak ada yang tahu ke arah mana takdir membawa setiap manusia. Satu hal yang pasti hanyalah kematian. Begitupula nasib Samsul yang ditemukan tergeletak di dekat kanvasnya menjelang Subuh. Malam itu Raka tak kuasa menahan kantuknya. Ia lebih dulu terlelap setelah membuatkan secangkir teh untuk Pak tua tersebut. Ia baru sadar saat hendak menunaikan salat Subuh. Menyadari tangan Samsul yang membeku dingin dan denyut nadinya tak lagi berfungsi.
Seminggu setelah kepergian Samsul, Raka membersihkan seluruh lukisan milik majikannya itu. Lalu, dipindahkan ke ruang utama, tempat biasa karya dipamerkan. Kali itu, hanya milik Samsul yang dipajang. Kabarnya, kolektor dan para seniman akan berdatangan ke sanggar tersebut.
Tanpa disangka pacarnya turut hadir. Acaranya memang digelar untuk umum. “Bapak yang menyuruhku. Sudah lama ingin melihat lukisan Pak Samsul,” jawab Marni, pacarnya.
Pengunjung yang datang membeludak, di luar perkiraan Raka. Matanya terpana saat melihat gerombolan para seniman kondang yang pernah masuk layar kaca ikut hadir memeriahkan. Raka terheran-heran dengan pemandangan tersebut. Sebab, sepanjang ia bekerja belum pernah melihat kunjungan seramai itu. Ia pun teringat dengan pertanyaannya di malam terakhir bersama Samsul.
“Sudah lama sebenarnya saya ingin menikmati lukisan Samsul. Tapi, takut duluan sama harganya. Ritme artistik, proporsi gambar dan tekstur terlihat harmonis dalam tone dan tint warna yang sempurna. Lukisan yang wow,” tutur seniman kondang itu saat memberi sambutan. Sorot matanya membingkai rasa takjub.
“Saya kagum sama Pak Samsul. Sudah berumur tapi semangat sekali berkarya. Kalah saya. Dalam sebulan beliau bisa menghasilkan puluhan lukisan,” celetuk Pak Tomi pada para rekannya yang tanpa sengaja ia dengar saat menemani Marni berkeliling.
Saat tepat di depan karya terakhir yang dilukisnya, Raka terdiam cukup lama. Sosok Kumala dalam kebaya putih tersenyum. Senyumnya mirip seperti senyum Samsul sebelum sempurna tertutup kafan. Raka kini mengerti harga yang pantas untuk lukisan Samsul. Tidak semua hal yang bernilai harus dihargai dengan materi. Ini yang membuat Raka menggumam sendiri, “Barangkali yang mengira lukisan Samsul tidak bagus hanya segelintir orang yang tak paham soal seni. Tapi bukannya seni itu soal selera.” Pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
