Pertama, kebiasaan tersebut bisa menjadi tameng dari pergaulan-pergaulan bebas—yang saat ini—kerap menjarah kehidupan pemuda. Orangtua pun bisa lebih tenang dalam pengawasan.
Kedua, bisa meningkatkan rasa kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Di sana akan tercipta sikap solidaritas antarsantri. Meskipun tidak berstatus mondok, namun sedikit banyak kebiasaan itu juga berimbas sebagaimana yang juga tercipta di dunia pesantren.

Ketiga, menginap di surau akan semakin membuka banyak peluang para santre colog ini memberikan abdi terhadap kiai. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, setelah Subuh tiba, para santre colog biasanya akan bersama-sama (dengan santri lain) melakukan bersih-bersih di sekitaran masjid atau surau, tak jarang juga di ndalem kiai.
Iklim demikian akan semakin memperkuat hubungan antara santri dan guru di dalam mencari ilmu. Sebab, kita tahu, dalam dunia pesantren, relasi semacam itu sangat dibutuhkan untuk mendukung proses ngalap barokah.
Keempat, sebagai cara untuk melatih santre colog sebelum mondok di pesantren. Sebenarnya, antara hanya menginap di surau dengan mondok di pesantren itu berbeda. Namun, saya meyakini—dengan cara ini—para santre colog yang akan melanjutkan mondok bisa melatih dirinya, berikut mental dan kesiapan lainnya.
Jadi, kebiasaan menginap di surau yang dilakukan oleh santre colog di masa dulu atau sekarang (meski sudah langka) melahirkan mozaik keilmuan yang unik. Namun, sayangnya di masa ini eksistensi itu sudah sangat jarang kita jumpai. Padahal, manfaat yang dihasilkan sangat baik. Wallahu a’lam.
