MADURA DARI SEPETAK RUANG

hitungan bukan lagi jalan-jalan yang mesti raib di simpang

aroma pagi, siang, malam hingga berpuluh-puluh hujan kejam

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

bergeraklah berirama cahaya dan suara luka adalah bayangan rindu yang membentang

kupeluk kau dengan dekapan yang tiada bandingnya.

Telang Permai, 2022.

RUAH MADURA DARI SEPETAK RUANG

“ruah madura memimpikan terbang ke gelegar barangkali ada di antara jalan doamu yang purba” 

aku katakan padamu belai-belai kuntum warnamu meriah

terdampar luas menguning ilalang bermegah Pertiwi

maka pada obituari hidup

semalam saja mengaminkanmu sebagai tanda cinta dari umat

tak ubahnya wajah riang di taman-taman menepis beludru

dengan pancarona kemenangan di silabus musim ke musim

dengan gamblangnya tuhan tersenyum merekah di pelupuknya

tiadakah yang mampu menyelami derai-derai itu_menyelami limpah tuhan yang kuasa di semenjana.

“maka, wajahmu meras benih-benih ilahi menumbuhi malam kelam menghalau dinginnya pudar”

apa lagi, kehangatan menusuk-nusuk renjana melengkapi kebahagiaan yang puspa

terlahir dari aulia-aulia yang menyerupai mega nyalar ke hati

maka, tiada henti mereka kayuh griya dan rupa keutuhan ialah kejayaan yang mesti hanyut sedalam-dalamnya

sebab, pekat di sudut ruang ialah mimpimu yang ditafsiri oleh tuhan yang berkuasa

: barangkali masih ada proses berkepanjangan serupa

serupa semesta berlimpah cerlang

dan dentuman burung melepas lelah

justru dari segala asa:

barangkali pitawat mereka termasuk ibu lengang dari benalu

lalu ayah merangkulnya sambil tersenyum sinis: ia untuk bersama-sama meredam dari pelajaran merawat

dan prihal sejahtera yang sahaja jua

Maka, pada genggaman waktu dan kepercayaan matahari yang berpanas-panas di petamu sepanjang

melumuri tanah-tanah menjadi kering dan gersang

dari situ, alam semesta menjadi adil tepat menyalakan perbedaan

Tinggalkan Balasan