hitungan bukan lagi jalan-jalan yang mesti raib di simpang
aroma pagi, siang, malam hingga berpuluh-puluh hujan kejam

bergeraklah berirama cahaya dan suara luka adalah bayangan rindu yang membentang
kupeluk kau dengan dekapan yang tiada bandingnya.
Telang Permai, 2022.
RUAH MADURA DARI SEPETAK RUANG
“ruah madura memimpikan terbang ke gelegar barangkali ada di antara jalan doamu yang purba”
aku katakan padamu belai-belai kuntum warnamu meriah
terdampar luas menguning ilalang bermegah Pertiwi
maka pada obituari hidup
semalam saja mengaminkanmu sebagai tanda cinta dari umat
tak ubahnya wajah riang di taman-taman menepis beludru
dengan pancarona kemenangan di silabus musim ke musim
dengan gamblangnya tuhan tersenyum merekah di pelupuknya
tiadakah yang mampu menyelami derai-derai itu_menyelami limpah tuhan yang kuasa di semenjana.
“maka, wajahmu meras benih-benih ilahi menumbuhi malam kelam menghalau dinginnya pudar”
apa lagi, kehangatan menusuk-nusuk renjana melengkapi kebahagiaan yang puspa
terlahir dari aulia-aulia yang menyerupai mega nyalar ke hati
maka, tiada henti mereka kayuh griya dan rupa keutuhan ialah kejayaan yang mesti hanyut sedalam-dalamnya
sebab, pekat di sudut ruang ialah mimpimu yang ditafsiri oleh tuhan yang berkuasa
: barangkali masih ada proses berkepanjangan serupa
serupa semesta berlimpah cerlang
dan dentuman burung melepas lelah
justru dari segala asa:
barangkali pitawat mereka termasuk ibu lengang dari benalu
lalu ayah merangkulnya sambil tersenyum sinis: ia untuk bersama-sama meredam dari pelajaran merawat
dan prihal sejahtera yang sahaja jua
Maka, pada genggaman waktu dan kepercayaan matahari yang berpanas-panas di petamu sepanjang
melumuri tanah-tanah menjadi kering dan gersang
dari situ, alam semesta menjadi adil tepat menyalakan perbedaan
