yang meski satu-satu menyulam ketenteraman dan kepedulian
sesama kita

kita sesama
: saling merasakan enak
dengan luapan asa hingga berkali-kali mencipta darah juang
menyemai budaya leluhur yang layak di perjuangkan tambah
tanpa mengingat prihal usia yang menyandang duka dan cita
atas dasar-dasar nenek moyang mengenakan hidup berpasang-pasangan
berdenting panji-panji islam bergandeng aulia-aulia di sirah tuhan, bismillah.
Telang Asri, 2022
SAKSI HARAPAN YANG TETAP BERMUARA
“dua hari sebelumnya tiga tuan hadir dengan binar berbekal kasih menyeringai. Yang tidak disangka ayah; bersyukurlah atas nama satu-menyatu. Hal serupa aku temui di ujung lalu, wajarlah bila bersama dan saling dan mereka pasti menganggapnya serupa. Sudah pasti atas nama kedekatan sembari akan kembali mengaliri sekelar. Dan aku niatkan musim menyatukan kita ke kedalaman pengharapan.”
aku pernah mengalami duka di balik kepala
saat menunggal hujan yang bersimbah darah
aku lawan rintik bahkan kepulangan seperti jamaah qubro
saling menemukan pengharapan dalam jidatnya, kepulan asap tubuhnya
meringkih dasar tabiat sebagai manusia paling optimistis
hujan masih lebatnya ditikam niatnya
sisipan baju bergumul, namun angannya tetap mengembang
wajah tertusuk duri, lega melangkah.
tangan terkepal meneguhkan kepercayaan
yang tak terlihat cahaya sedikitpun, mestilah
nuh-nuh dan debur doa membentur mistar
retak bagai nama sepenggal “lii’lai kalimatillah”
di belakang ibu mengamini sup buah
yang diracik semenjak hujan mengguyur kota penginapan
aku menyukai masakan khas lahir
para ayah mengais-ngais abjad sendiri
yang senantiasa sebagai lumat bibir milik kita menemukan pengharapan agar takdir cinta anak kecilmu melunak
“oh tuhan, bila kelak tak mengerti apapun, ia berkata akan berlanjut-lanjut meminta tanpa memilah rintiknya membelah jantung. Di ujung sanalah bulan akan menghasilkan terang bagi camar yang remang lalu oleh tangan-tangan menjadi terampil mencari pasangan yang tetap bermuara.”
