Riwayat lain juga menyebutkan, ia belajar ilmu falak kepada Kiai Abu Abdillah Muhammad Bin Hadi Buguni, seorang mufti di Semarang. Juga mengaji kitab Jauhar Al-Tauhid dan Minhajul Abidin kepada Kiai Ahmad Bafaqih Ba’ahvi Semarang dan belajar kitab Al-Masail Al-Sittin kepada Syekh Abd Al-Ghani Bima Semarang.
Di luar Semarang, Kiai Sholeh Darat juga sempat berguru kepada Kiai Ahmad Alim Bulus, Gebang, Purworejo. Kepadanya ia mempelajari ilmu tasawuf dan Tafsir Al-Quran. Oleh Kiai Ahmad Alim, Kiai Sholeh Darat diperbantukan di Zain al-Alim untuk mengasuh sebuah pesantren di Dukuh Salatiang, Desa Maron, Kecamatan Loana, Purworejo.

Setelah belajar di beberapa daerah di Jawa, Kiai Sholeh Darat diajak ayahnya untuk menunaikan ibadah haji. Uniknya, keduanya singgah dulu beberapa bulan di Singapura. Sambil menanti izin resmi dan keberangkatan kapal, Kiai Umar dan Sholeh Darat juga sempat mengajar agama di sana. Seiring waktu, santrinya semakin banyak, terutama dari kalangan etnis Melayu dan Jawa. Tak lama, para santri ikut mengantarkan kepergian keduanya ke Tanah Suci.
Selepas menunaikan ibadah haji, Kiai Umar wafat di Mekkah dan dimakamkan di sana. Kiai Sholeh pun menetap di Mekkah selama beberapa tahun untuk berguru kepada komunitas ulama jawi (Bilad al-Jawi), yakni komunitas para ulama dan santri yang berasal dari kawasan Asia Tenggara yang bermukim di Mekkah guna memperdalam ilmu agama.
Selama berada di Mekkah, Kiai Sholeh Darat berguru kepada beberapa ulama yang masyhur kala itu. Mula-mula, Sholeh Darat belajar ilmu-ilmu akidah, khususnya kitab Umm al-Barabin (karya al-Sanusi) kepada Syekh Muhammad al-Maqri al-Mashri al-Makki.
Selanjutnya, ia berguru kepada Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah. Ia adalah pengajar di Masjid al-Haram dan al-Nabawi. Kepadanya, Kiai Sholeh belajar fikih dengan menggunakan kitab Fath Al-wahhab dan Syarh al-Khatib, serta nahu dengan menggunakan kitab Alfiyah Ibn Malik.
Di saat yang sama, ia juga belajar kitab Ihya Ulumuddin (karya Imam Ghazali) kepada Sayyid Ahmad Bin Zaini Dahlan dan Sayyid Muhammad Shalih Al-Zawawi Al-Makki. Lalu belajar kitab al-Hikam (karya Ibn ‘Atha’illah) kepada Syekh Ahmad Al-Nahrawi al- Mishri al-Makki, belajar kitab Fath Al-Wahhab dari Kiai Zahid dan syekh Umar al-syami, belajar kitab Syarh al-Tahrir kepada Syekh Yusuf al-Sanbalawi al-Mishri. Kiai Sholeh Darat juga belajar Tafsir al-Quran kepada Syekh Jamal, seorang mufti mazhab Hanafiyyah di Mekkah.

Mantap, sangat lengkap dan inspiratif,,,