Hemat alfakir, kenapa kopi memiliki magnet yang tersimpan melalui proses perpaduan bubuk kopi dan air hangat, yang ditambahkan gula dikit, karena dengan kopi semua orang menjadi semakin mengikat. Dengan kopi semua orang saling mendekat. Karena kedekatan dan ikatan emosional itulah dapat memancarkan cahaya Tuhan dalam dirinya. Dengan kata lain, dia menemukan cahaya Tuhan di dalam dirinya dan di hamparan alam semesta.
Kalau di pesantren, tepatnya di Pesantren Annuqayah daerah Latee dulu, alfakir menemukan banyak sekali keunikan di balik ngopi bareng sama teman-teman. Hemat saya, kopi mendatangkan banyak sekali keberkahan, baik berupa keberkahan ilmu, teman, rezeki, atau apa saja melalui wasilah kopi.

Di pesantren dulu, alfakir ini termasuk dari sekian santri yang jarang dikirim oleh orang tua. Saya adalah termasuk di antara golongan santri yang sederhana. Di tambah lagi, Abi saya tidak bisa datang ke pesantren kalau dalam keadaan sendiri tanpa ada yang menemani, mengingat jarak tempuh antara Pesantren Annuqayah dengan desa kelahiran saya terhitung jauh. Tapi kondisi itu tidak menjadi soal bagi saya. Hidup sederhana bukan dijadikan sebagai bahan untuk menghindari perjuangan. Justru, karena keterbatasan itu Allah selipkan keberkahan, yang nantinya mengantarkan segala impian mewujudkan menjadi kenyataan.
Terbukti, kopi mampu mendekatkan saya dan teman-teman. Yang kaya sering mentraktir saya. Selain itu, saya juga dipertemukan dengan santri-santri hebat dengan segala prestasinya. Karena kopi, kita menjadi dekat. Sebut misalnya, Musyfiqur Rahman, salah satu santri yang produktif yang telah menulis banyak buku, di antara karyanya adalah Saya Bersaksi Tiada Perempuan Salain Engkau, terjemahan dari kitab karya Nizar Qabbani. Mungkin karena motivasi ini saya bisa sampai di Bogor, dan menemukan cintanya di sana. Kami berdua dipertemukan di sebuah pesantren pula di Tegal Waru, Ciampea, dan akan segera bersatu menyempurnakan separo iman kita. Amin.
Selain dia, ada juga Amirul Muttaqin. Dia juga suka banget sama kopi. Saat ini dia sedang menempuh strata tiganya (S-3) di Malang. Tulisan-tulisannya telah dimuat di berbagai media ternama, seperti Harian Kompas. Artikel yang tekah terbit dengan judul “Full Day School”. Ini yang saya maksud dengan mahabah kopi tersebut, di mana ketika seseorang telah terpatri dalam dirinya sebuah cinta, maka akan memancarkan cahaya ilahi untuk alam sekitar.
