MAHAKARYA YANG BERNAMA RINDU

SAJAK UNTUK JIWA YANG KUPANGGIL ANAK

Kau adalah fajar yang lahir dari rahim malam yang panjang,

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Membawa cahaya yang tak pernah diajarkan oleh matahari yang garang.

Kau adalah embun yang jatuh di kelopak mawar yang luka,

Menyembuhkan perih dengan lembut, tanpa pernah meminta balasan apa-apa.

Suara tangismu adalah kidung pertama yang kudengar dari surga,

Menggetarkan dadaku yang selama ini beku, lalu menjelma menjadi doa.

Tawamu adalah desir angin yang menyibak tirai-tirai duka,

Membuka jendela hatiku yang telah lama terkunci dan buta.

Kau adalah sungai yang mengalir dari hulu kerinduan,

Membawa perahu kecil bernama harapan menuju lautan keabadian.

Kau adalah hutan yang rimbun di dalam dadaku yang tandus,

Tempat burung-burung rindu bersarang dan bernyanyi tanpa putus.

Kau mengajarkanku bahwa cinta bukanlah memiliki,

Melainkan merelakan sayapmu mengepak, meski hatiku berdarah dan perih.

Kau mengajarkanku bahwa menjadi ayah bukanlah menjadi raja,

Melainkan menjadi tanah yang rela diinjak, agar kau bisa tumbuh menjadi istana.

Jika suatu hari kau tersesat di labirin dunia yang fana,

Ingatlah, ada kompas di dadamu, namanya adalah doa.

Jika suatu hari kau merasa menjadi debu yang tak berharga,

Ingatlah, di mataku kau adalah permata yang tak ternilai harganya.

Nak, kau adalah sajak yang tak pernah selesai kutulis,

Karena setiap detik bersamamu adalah bait baru yang manis.

Dan bila tinta usiaku telah habis dan tanganku tak lagi bisa menulis,

Cintaku akan tetap menjadi puisi yang hidup di dalam napasmu yang tak pernah habis.

 

BAYANG CAHAYA YANG BERNAMA ANAKKU

Kau bukan sekadar darah yang mengalir di nadiku,

Kau adalah gema dari doa-doa yang kupanjatkan dalam sujud paling syahdu.

Kau lahir dari rahim rindu yang kupeluk dalam sepi,

Lalu menjelma menjadi cahaya yang menuntunku kembali ke jalan Ilahi.

Matamu adalah dua telaga yang memantulkan langit,

Di dalamnya, kulihat diriku yang dulu pernah tersesat dan sakit.

Tawamu adalah lonceng gereja di lembah sunyi,

Yang membangunkan jiwa-jiwa yang telah lama mati.

Kau adalah puisi yang ditulis Tuhan dengan tinta air mata,

Setiap baitnya adalah luka yang menjelma menjadi bahagia.

Kau adalah syair yang tak pernah selesai kubaca,

Karena setiap kali kubaca, ada makna baru yang terbuka.

Waktu adalah sungai yang tak pernah berhenti mengalir,

Ia merenggut kecilmu, mengubah genggamanmu menjadi rindu yang getir.

Namun ketahuilah, di setiap arus yang menghanyutkanmu pergi,

Ada jangkar bernama cintaku yang selalu menahanmu kembali.

Jika kelak kau menjadi bintang yang jauh di cakrawala,

Jangan lupakan langit yang pernah menjadi rumahmu semula.

Jika kelak kau menjadi samudera yang luas dan dalam,

Ingatlah, kau bermula dari setetes embun di telapak tanganku yang tenggelam.

Nak, kau adalah cermin yang memantulkan wajahku yang paling jujur,

Kau adalah alasan kenapa aku belajar menjadi manusia yang lebih luhur.

Dan bila suatu hari aku tiada, dan namaku hanya tinggal nisan,

Kenanglah aku sebagai tanah yang pernah menumbuhkanmu menjadi taman.

 

MAHAKARYA YANG BERNAMA RINDU

Kau adalah lukisan yang dilukis Tuhan dengan kuas cahaya,

Di atas kanvas hatiku yang dulu kusam dan penuh noda.

Kau adalah melodi yang lahir dari keheningan yang paling dalam,

Mengalun lembut, menyembuhkan luka yang tak pernah bisa kuucapkan dengan kata-kata yang gamblang.

Matamu adalah dua jendela yang terbuka ke arah keabadian,

Di sana kulihat masa lalu dan masa depanku berpelukan dalam kedamaian.

Senyummu adalah musim semi yang datang setelah musim dingin yang kejam,

Menghidupkan kembali bunga-bunga harapan yang telah lama kupendam.

Kau adalah hujan yang jatuh di padang gersang jiwaku,

Membasahi tanah yang retak, menumbuhkan tunas-tunas rindu yang baru.

Kau adalah api kecil yang menyala di tengah badai yang mengamuk,

Yang membuatku tetap hangat, meski dunia mencoba memadamkanku hingga redup.

Kau adalah cermin yang memantulkan wajahku yang paling rapuh,

Dan di dalam rapuh itu, kau mengajarkanku arti menjadi teguh.

Kau adalah guru yang datang dalam wujud kecil dan polos,

Yang mengajarkanku bahwa surga itu ternyata bisa dipeluk, bukan hanya dirindukan dalam doa yang tulus.

Jika waktu adalah pedang yang akan memisahkan kita,

Biarlah ia memotong jarak, bukan memotong cinta.

Jika takdir adalah ombak yang akan menghanyutkanmu jauh dariku,

Biarlah aku menjadi pantai yang selalu setia menunggumu kembali kepadaku.

Nak, kau adalah mahakarya yang tak pernah bisa kuulang,

Kau adalah satu-satunya keabadian yang Tuhan izinkan kupeluk dalam dunia yang fana dan hilang.

Dan bila suatu hari aku menjadi debu dan namaku dilupakan oleh zaman,

Cintaku akan tetap hidup, menjadi bintang yang menerangi jalanmu di kegelapan.

 

DOA YANG BERJALAN DENGAN KAKI KECIL

Kau adalah doa yang menjelma menjadi manusia,

Berjalan dengan kaki kecil, membawa surga di dalam tawanya.

Kau adalah ayat yang turun di tengah malam yang paling sunyi,

Membuatku bersujud lebih lama, menangis lebih dalam, dan mencintai lebih suci.

Matamu adalah dua buah sumur yang tak pernah kering,

Tempatku menimba keteduhan saat dunia terasa begitu garing.

Tangismu adalah azan yang membangunkan jiwaku yang tertidur,

Mengingatkanku bahwa cinta adalah ibadah yang paling jujur.

Kau adalah taman yang tumbuh di dalam reruntuhan hatiku,

Di antara puing-puing luka, kau mekar menjadi bunga yang paling harum dan syahdu.

Kau adalah pelangi yang muncul setelah hujan badai yang paling dahsyat,

Menjanjikan bahwa setelah perih, akan ada indah yang tak pernah kulihat.

Kau mengajarkanku bahwa waktu adalah pencuri yang paling halus,

Ia mencuri kecilmu sedikit demi sedikit, tanpa pernah merasa malu dan culas.

Namun di setiap detik yang ia curi, ia meninggalkan kenangan,

Yang kusimpan di dalam dadaku seperti harta yang tak akan pernah hilang.

Jika kelak kau menjadi pohon yang menjulang ke langit,

Jangan lupakan akar yang diam-diam memelukmu di dalam tanah yang sunyi dan sakit.

Jika kelak kau menjadi burung yang terbang melintasi samudera,

Ingatlah, sarang pertamamu adalah pelukku yang selalu terbuka.

Nak, kau adalah doa yang tidak pernah selesai kuucapkan,

Karena setiap napasmu adalah amin yang Tuhan kabulkan.

Dan bila suatu hari aku tak lagi bisa menyebut namamu dalam doa,

Cintaku akan tetap menjadi malaikat yang menjagamu, di mana pun kau berada.

Tinggalkan Balasan