Makna Pluralisme yang Sebenarnya

Pluralisme agama pada dasarnya merupakan sebuah realitas dalam kehidupan dunia. Al-Qur’an mengakui secara tegas adanya pluralisme dalam berbagai aspek kehidupan manusia, dengan berbagai argumentasinya.

Sebenarnya, pluralisme atau “al-ta’addudiyyah”, tidak dikenal secara popular dan tidak banyak dipakai di kalangan Islam, kecuali sejak kurang lebih dua dekade terakhir abad ke-20, yaitu ketika terjadi perkembangan penting dalam kebijakan internasional Barat yang baru memasuki sebuah fase perkembangan. Dalam hal ini upaya Barat yang habis-habisan menjajakan ideologi modernnya yang dianggap universal, seperti demokrasi, pluralisme, dan pasar bebas serta mengekspornya untuk konsumsi guna berbagai kepentingan yang beragam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam hal pluralisme agama, Islam memberikan kebebasan untuk memilih dan meyakini serta beribadah menurut keyakinan masing-masing. Pemilihan sebuah keyakinan merupakan pilihan bebas yang bersifat personal. Meski demikian, manusia diminta untuk memilih dan menegakkan agama. Tapi, pluralisme juga ingin melampui capaiannya, yaitu menjadi sebuah upaya memahami yang lain melalui sebuah pemahaman yang konstruktif.

Artinya, karena perbedaan dan keragaman merupakan hal yang nyata, maka yang diperlukan adanya pemahaman yang baik dan lengkap tentang hal lain, sehingga tercapainya kehidupan yang damai. Karena makna pluralisme secara fundamental adalah, menolak berbagai macam tindakan kekerasan, karena tindakan tersebut secara nyata tidak sesuai dengan prinsip kemanusiaan universal, yaitu antara satu agama dengan lainnya harus saling menghargai dan menghormati.

Namun, menurut penulis, perlu adanya tafsir baru atas pluralisme. Hal ini dalam rangka menghindari pemahaman dan representasi yang salah. Sebab, munculnya tafsir sewenang-wenang atas pluralisme akan sangat berbahaya karena akan menimbulkan dampak-dampak negatif, terutama untuk menjaga keragaman.

Kesalahan dalam pemahaman sesungguhnya tidak hanya dilakukan oleh orientalis terhadap Islam, tetapi lebih dari itu juga bisa dilakukan oleh kalangan Muslim, terutama kurangnya pengetahuan tentang pluralisme. Di masa mendatang, tidak sepatutnya bila pluralisme dijadikan momok, apalagi diharamkan. Sebab, pluralisme menyisakan mutiara untuk hidup damai dan toleran.

Hakikat Pluralisme 

Dimaknai secara bahasa, plural berarti lebih dari satu dan isme adalah sistem kepercayaan. Secara harfiah pluralisme berarti jamak, beberapa, berbagai hal, keberbagaian atau banyak. Oleh karenanya sesuatu dikatakan plural pasti terdiri dari banyak hal jenis, pelbagai sudut pandang serta latar belakang.

Pluralisme sendiri sesungguhnya adalah istilah lama yang hari-hari ini kian mendapatkan perhatian penuh dari semua orang. Dikatakan istilah lama, karena perbincangan mengenai pluralisme telah dielaborasi secara lebih jauh oleh para pemikir filsafat Yunani secara konseptual dengan aneka ragam alternatif memecahkannya.

Pluralisme dianggap oleh banyak kalangan sebagai tahapan lanjutan dari inklusivisme. Pluralisme makin memperjelas dan meyakini adanya perbedaan dalam agama-agama. Pluralisme dianggap sebagai lompatan praksis dari sekadar inklusivisme pemahaman keagamaan. Pluralisme telah menjadi realitas dari agama-agama itu sendiri. Setiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak orang lain, tetapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan, guna tercapainya kerukunan dalam kebhinekaan. Melalui pemahaman tentang pluralisme yang benar dengan diikuti upaya mewujudkan kehidupan yang damai seperti inilah, akan tercipta toleransi antarumat beragama, termaduk di Indonesia. Toleransi yang dimaksud tentu saja bukan toleransi negatif, tetapi toleransi yang benar adalah toleransi positif.

Hakikatnya, pluralisme berusaha mengajak kita agar lebih realistis, bahwa hakikatnya agama-agama adalah berbeda. Perbedaan tersebut dilihat dari segi penghayatan terhadap agama dan yang lebih penting adalah dimensi simbolik dan sosiologisnya. Kendatipun ada kesamaan dalam ranah ritual sekalipun, karena agama ibarat sebuah rumah, tetap saja ada perbedaannya.

Tinggalkan Balasan