“Ah masa sih! Ulat kan jijik kok bisa jadi kupu-kupu yang indah?”
“Iya memang begitu, itu namanya metamorfosis, Senja baca di buku kelas lima sih!”

Ibu guru mendengar percakapan Senja, dan langsung menyadari kekeliruannya dalam menyikapi Senja yang sudah mengisi soal di buku lembar kerja siswa. Lalu dia pun menghampiri Senja yang sudah duduk bersama Melati.
“Senja, mana tadi buku yang sudah kamu isi? Belum dihapus kan?”
“Oh belum bu! Tadi mau dihapus ada kupu-kupu!”
“Ya sudah jangan dihapus, nanti kumpulkan bareng yang lainnya ya! Sekarang kamu membaca halaman berikutnya saja!”
“Iya bu!” ucap Senja dengan mata berbinar dan senyum mengembang.
Malaikat yang sayapnya masih tersangkut di pohon pinus nampak terharu melihat mata Senja kembali berbinar, sehingga mata malaikat yang bening seperti mata bayi itu pun terlihat digenangi air mata.
***
Baru saja malaikat itu berhasil melepaskan jeratan pohon pinus, telingganya langsung menangkap suara orang mengucapkan istighfar berulang-ulang dengan nada kesal. Rasa penasaran menuntunnya mendekati sumber suara, ternyata berasal dari ruangan kelas satu C yang ada di pojok. Dari balik kaca jendela malaikat itu melihat Budi sedang diajari menulis bagus oleh ibu gurunya. Tapi tulisan Budi tetap saja berantakan.
“Ayo Budi masa nggak bisa, teman-teman kamu saja bisa!” ujar ibu gurunya.
Budi hanya bisa terdiam menunduk sambil tangannya menggenggam pensil yang ia gores-goreskan ke bukunya. Dia berusaha kembali membuat tulisan bagus, namun masih saja dianggap gagal. Malaikat yang melihat itu kembali mengelus dada. Dia sama sekali tak mengerti kenapa ibu guru itu harus membanding-bandingkan, harusnya dia paham Tuhan menciptakan manusia dengan potensi beragam. Budi memang memiliki kelemahan dalam kemampuan menulis, tapi dia sudah mampu membaca dan berhitung dengan baik. Seharusnya kelemahannya itu tidak dibuat untuk membuatnya mengutuk diri atas ketidakmampuannya.
