Kemudian malaikat itu mendekati Budi dan berbisik, “Hey Budi, dulu juga kamu nggak bisa membaca dan berhitung, tapi sekarang kamu sudah pandai kan! Nanti juga kamu akan bisa menulis bagus kalau terus dilatih!” kata-kata yang dibisikkan malaikat itu langsung terbersit dalam pikiran Budi, hingga muncul keyakinan kalau dia juga bisa menulis dengan bagus seperti teman-temannya.
Malaikat senang melihat Budi menjadi optimis. Namun dia merasakan kebosanan pada anak-anak berada dalam kelas, lalu dia pun kembali menjadi kupu-kupu yang beraneka warna dan berkilauan cahaya. Anak-anak langsung bersorak dan ibu gurunya pun terlihat takjub. Mereka ikutan berlari keluar mengejar kupu-kupu yang terbang menuju taman.

“Ayo ambil dulu bukunya, kita belajarnya di luar saja!” ujar bu guru beberapa kali.
Anak-anak pun dengan riang mengambil bukunya dan kembali ke taman. Mereka langsung duduk bersila sambil matanya sesekali melirik pada kupu-kupu yang hinggap pada bunga-bunga. Kupu-kupu itu seperti sengaja menemani anak-anak belajar, namun ketika anak-anak fokus pada belajarnya, kupu-kupu itu hilang satu-satu hingga anak-anak pun menerka kalau kupu-kupu itu sudah terbang entah ke mana.
***
Baru saja hendak pulang ke langit, malaikat itu dikejutkan suara orang menggebrak meja. Tanpa pikir panjang dia bergegas menuju sumber suara itu yang berasal di kelas enam. Dan sesampainya di sana malaikat itu hanya terdiam di pintu masuk. Dilihatnya Pak Khodir sedang berusaha menertibkan anak-anak yang menjadi sumber rusuh. Namun anak yang menjadi biang rusuh malah terlihat cengengesan.
“Tenang saja, dia hanya bisa menggebrak meja, nggak mungkin berani nampar. Kalau berani nanti aku laporkan bapakku, biar dilaporkan ke polisi. Saudaraku saja ada yang dilempar penghapus sama Bapakku dilaporkan!” ujar Sobri dengan nada berbisik ke pada Amrul, teman sebangkunya.
Malaikat itu tahu kalau Sobri anak yang sok jago. Dia akan merasa hebat kalau ada anak yang takut padanya. Dia suka malak sama adik-adik kelasnya. Kepada guru pun berani melawan, bahkan dia suka mencuri juga. Sebagai mana juga bapaknya yang sok jago, merasa hebat kalau ditakuti, dengan petentang-petenteng dia minta uang keamanan pada pedagang-pedagang di trotoar, minta uang koordinasi bila ada pembangunan jalan atau renovasi sekolah.
Malaikat memahami kesulitan Pak Khodir yang harus mendidik anak yang oleh orang tuanya sendiri tidak dididik bahkan malah dirusak. Dia melihat Pak Khodir beberapa kali nampak menghela napas untuk meredakan kekesalannya. Lalu malaikat itu pun mencoba kembali menjadi kupu-kupu agar Pak Khodir tidak terlalu stress.
Melihat ada kupu-kupu yang indah warnananya dan berkilauan cahaya, seisi kelas lagsung terpukau. Mereka terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Sampai kupu-kupu itu terbang keluar dan menjauh pun mereka masih terlihat tertegun, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
“Kupu-kupu tadi begitu indah bukan, kita semua terpukau keindahannya, tapi ketika dia masih menjadi ulat, apakah kita terpukau atau malah jijik? Kita juga begitu, yang sudah menjadi kupu-kupu akan terlihat indah dan yang masih menjadi ulat semoga dengan cepet berubah menjadi kupu-kupu!” ujar Pak Khodir dengan nada lembut.
Anak-anak terlihat manggut-manggut mendengar ucapan Pak Khodir, tapi tidak dengan Sobri. Dia terlihat kesal, “Sialan! Aku dibilang ulat, awas aku akan laporkan ke bapak, biar tahu rasa!” Sobri menggerutu dalam benaknya.
