Namun seiring dengan tingginya populasi orang Madura khsusnya di pedesaan, maleman belakangan ini sudah dimulai sejak tanggal 1 Ramadan. Hal itu dilakukan karena tidak mungkin dalam waktu empat malam dari tanggal 21 sampai 27 Ramadan orang-orang melaksanakan maleman secara serentak. Lalu siapa orang yang mau hadir ke undangan maleman tetangganya, toh di rumahnya sendiri juga melaksanakan maleman.
Lantas kenapa tidak ada orang yang melaksanaan maleman pada tanggal 29 Ramadan? Tanggal 29 Ramadan biasanya orang Madura melaksanakan “Telasan Sarab” artinya lebaran serabih. Hal itu ditandai dengan pembuatan serabih di rumah masing-masing untuk dibagikan kepada para tetangga dan ke masjid-masjid atau musala agar bisa dinikamati oleh orang yang baru selesai salat tarawih dan tadarus Al-Qur`an.

Itulah tradisi “maleman” menurut orang Madura yang hingga saat ini masih eksis dijalankan secara turun temurun.
