Menarik, karier intelektual Kiai Syarfuddin tak seperti kebanyakan kiai pada umumnya yang sering belajar ke Mekkah. Yang pada saat itu, Mekkah diyakini sebagai salah satu tempat terbaik untuk memperdalam ilmu pengetahuan, khususnya di bidang keagamaan. Kiai Syarfuddin hanya menimba ilmu di Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Madura. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Sukorejo Situbondo, namun dengan status bukan santri aktif Sukorejo.
Walau begitu, kealiman Kiai Syarfuddin di bidang ilmu keagamaan sudah masyhur di kalangan masyarakat Kangean, Sumenep. Maka tidak heran, jika beliau dijadikan rujukan banyak orang. Bukan hanya di kampungnya sendiri, melainkan dari luar kampung kiai. Baik menyangkut persoalan keagamaan maupun lainnya, semisal persengketaan, pertanian, dan sebagainya. Inilah bukti autentik perihal keulamaan Kiai Syarfuddin.

Dari sekian ilmu keislaman atau keagamaan yang dikuasainya, menurut saya ada satu ilmu yang paling digandrungi – tanpa menafikan ilmu lain – adalah ilmu nahu dan saraf, suatu cabang ilmu yang dikenal dengan tingkat kerumitan dan kesulitannya. Tak pelak, jika ada sebagian kalangan santri merasa bosan mempelajari, dan bahkan enggan untuk memperdalamnya.
Namun, berbeda dengan Kiai Syarfuddin yang justru menggandrungi ilmu nahu dan saraf. Bagi beliau, ilmu tersebut merupakan fondasi awal atau pintu pertama dalam memahami kitab kuning. Oleh karena itu, tanpa mengusai hal ihwalnya seseorang akan merasa kesulitan untuk dapat memahami kitab-kitab karya ulama klasik (kitab kuning).

One Reply to “Mangkatnya Sang Hamba Ilmu, KH Syarfuddin Abdusshomad”