Mangkatnya Sang Hamba Ilmu, KH Syarfuddin Abdusshomad

Saking gandrungnya terhadap ilmu nahu dan saraf, tak jarang dalam setiap pengajian yang diampuhnya walaupun bukan kitab-kitab hahu-saraf, semisal Jurumiyah, Kailani, Alfiyah ibn Malik, dll Kiai Syarfuddin acapkali membahas masalah nahu-saraf dengan cara memberi pertanyaan kepada setiap santri yang mengikuti pengajiannya.

Lazimnya, pertanyaan yang kerap dilontarkan seputar i’lal, i’rab, kedudukan kalimat, sighat, bentuk kalimat, dan pertanyaan nahu-saraf lainnya. Bahkan, di Pesantren Zainul Huda, pelajaran tentang nahu dan saraf mendapatkan porsi yang lebih daripada ilmu-ilmu keislaman lain. Maka tidak heran, apabila santri dan para alumnus Pesantren Zainul Huda banyak yang mahir dalam hal ilmu nahu dan saraf.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Yang menarik, pertanyaan-pertanyaan tentang seputar nahu dan saraf tersebut tak hanya berlaku bagi santri aktif di Pesantren Zainul Huda. Akan tetapi, Kiai Syarfuddin juga memberlakukan untuk para alumnusnya. Baik yang sudah menjadi kiai maupun yang masih melanjutkan jenjang pendidikannya ke pesantren-pesantren lain di Jawa seperti Pesantren Sukorejo Situbondo, Nurul Jadid, dll. Karena itu, jika para alumnusnya sowan ke ndalem beliau, hal yang pasti ditanyakan adalah tentang nahu dan saraf, tentu setelah menanyakan kabar.

Demikianlah, cara KH Syarfuddin Abdusshomad dalam mendidik para santri-santrinya terutama tentang ilmu nahu dan saraf. Namun, kini pertanyaan yang tak jarang membuat gemetar dengan penuh keringatan tersebut tidak akan pernah terdengar lagi untuk selama-lamanya. Semoga amal ibadah dan perjuangan beliau selama ini diterima di sisi Allah. Amiin. Wallahu A’lam.

One Reply to “Mangkatnya Sang Hamba Ilmu, KH Syarfuddin Abdusshomad”

Tinggalkan Balasan