Manisnya Dodol Nenek

***

Sebagai orang yang dimintai pendapat, untuk memilih dua kemauan yang berbeda antara kemauan ibu dan nenek, akhirnya aku mengambil jalan tengah. Sebagian kue menggunakan katering dan sebagian yang lain—termasuk dodol—membuat sendiri. Keputusanku membuat nenek dan ibu sama-sama bahagia dan tidak ada yang merasa dikesampingkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ibu mulai memesan kue yang ia tulis di balik selembar kertas undangan lusuh. Jari-jemarinya mengeser-geser layar ponsel tuanya yang sebagian warnanya mulai memudar. Sepasang matanya begitu cerlang menatap gambar kue yang diunggah pebisnis katering online. Memilih jenis. Memililh harga. Memilih lokasi. Memilih jasa pengiriman, hingga memilih yang berdiskon tinggi. Sambil ia masukkan kue yang disukai ke dalam gambar keranjang dan tak lupa mengecek saldo, khawatir harga belanjaannya jauh di atas saldo rekeningnya. Setelah telunjuknya menyentuh menu “Bayar” dan ada notifikasi proses berhasil, ibu tersenyum puas, serasa baru memesan pahala buat si kakek.

Sementara nenek minta dipindah ke dapur. Meski masih dalam keadaan sakit, ia begitu semangat mengecek bahan-bahan dodol yang akan ia buat besok lusa. Beruntung selang infus sudah ditanggalkan, sehingga tangannya lebih leluasa meraba tepung di dalam bak karet, mengamati kepingan gula siwalan dalam ember, dan menimang buah kelapa yang akan dijadikan santan.

Sebagaimana ibu, ketika nenek melihat bahan-bahan dodol sudah siap, ia juga tersenyum bahagia. Ia memintaku untuk mendatangkan Nyi Peya si pembuat tungku yang terkenal kemahiran dan kesaktian mantranya di kecamatan kami. Tungku buatan Nyi Peya bukan tungku sembarangan. Olahan tanah tungku itu biasa Nyi Peya taburi serbuk abu kuning rahasia yang selalu ia simpan dalm bungkus plastik dan diselipkan di dalam kutangnya. Sebelum tangannya memulai, Nyi Peya duduk bersila sambil menghadap kiblat, membaca mantra, dan menghentakkan kakinya tiga kali ke datar tanah yang akan ditempati tungku. Dan sesudah tungkus selesai, kembali melakukan semacam ritual: semangkuk air diisi dengan benda-benda yang bisa menghasilkan semua rasa yang biasa dicecap oleh lidah, di antaranya, garam, gula, cabai, cuka, bawang, belinjo, belimbing, dan beberapa benda lain yang dicampur jadi satu, kemudian air itu disiramkan ke bagian atas tungku.

Untuk menyalakan api pertama kali di tungku itu, Nyi Peya menggunakan kertas bertulis lam alif yang dibakar. Katanya, upaya tersebut untuk menolak bala dan pengaruh jahat makhluk halus. Bagi nenek, tungku buatan Nyi Peya sangat cocok untuk digunakan memasak dodol demi rasa lezat yang tak tertandingi.

Setelah tungku buatan Nyi Peya siap digunakan, tiba-tiba saja nenek turun dari lincak bambu yang semula ia tempati. Ia berjalan tertatih ke arah tungku sambil sesekali mengikat rambutnya jadi sanggul tunggal di belakang kepala.

Aku dan ibu terkejut melihat nenek yang seketika bisa berjalan seperti ada tanda-tanda ia sudah sembuh. Kami sangat bahagia. Nenek pun menakar senyum di bibir tuanya yang mulai sedikit memerah. Ia memintaku segera mengumpulkan kayu kabar, dan di antara kayu itu ia minta aku mengambil sepotong ranting rukam yang ujungnya mengarah ke utara.

Ranting jenis itu biasa nenek gunakan untuk menyalakan api pertama setiap kali ia memasak dodol. Menurut nenek—sebagaimana yang ia saring dari pendapat tetua Madura—ranting rukam yang ujungnya mengarah ke utara itu adalah simbol kematian, yang apabila dijadikan kayu bakar pertama, katanya bisa menghubungkan takaran rasa dodol yang diolah itu sesuai selera orang meninggal yang selamatan 1000 harinya hendak dilaksanakan.

Tinggalkan Balasan