Manusia, Teknologi, dan Etika

Anonimitas di dunia maya sering kali disalahgunakan sebagai celah untuk menghindari tanggung jawab moral. Perspektif filsuf Jean-Paul Sartre menekankan bahwa kebebasan sejati harus diiringi tanggung jawab atas setiap tindakan. Namun, avatar dan nama samaran menciptakan ilusi kebebasan tanpa konsekuensi. Akibatnya, individu merasa bebas untuk melontarkan ujaran dan perilaku yang tak akan mereka lakukan dalam interaksi tatap muka. Tanpa umpan balik langsung, kesadaran akan keberadaan manusia nyata di balik setiap akun pun mulai memudar.

Di sinilah ajaran etika klasik menemukan relevansi barunya. Al-Ghazali menekankan bahwa dasar etika terletak pada pembentukan karakter moral, yang tercermin dalam kejujuran, amanah, dan menjaga lisan—prinsip yang kini sangat penting di era digital.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kejujuran berarti tidak menyebarkan disinformasi, amanah mengacu pada tanggung jawab menjaga data pribadi dan tidak menyalahgunakannya, sedangkan menjaga lisan berarti berkomunikasi secara etis di ruang daring—menghindari cyberbullying, ujaran kebencian, serta komentar merendahkan yang merusak martabat orang lain.

Melalui konsep ‘asabiyyah-nya, Ibn Khaldun menekankan pentingnya solidaritas sosial sebagai inti peradaban. Di dunia digital yang semakin individualistis dan terfragmentasi oleh algoritma yang menciptakan ruang gema (echo chamber), prinsip solidaritas ini semakin relevan. Solidaritas digital dapat diwujudkan melalui komunitas online yang suportif, aksi sosial digital yang konstruktif, serta penolakan terhadap polarisasi yang merusak kohesi sosial.

Sejak masa Yunani Kuno, etika telah menjadi fokus perdebatan para filsuf. Aristoteles, dalam Nicomachean Ethics, menyatakan bahwa kebahagiaan (eudaimonia) dicapai melalui keutamaan intelektual dan moral. Keutamaan intelektual diperoleh melalui pengajaran, sedangkan keutamaan moral dibentuk melalui pembiasaan.

Kita belajar menjadi adil dengan melakukan tindakan yang adil, demikian pula dengan keutamaan lainnya. Meskipun awalnya terasa dipaksakan, pembiasaan ini pada akhirnya akan membentuk karakter dan menumbuhkan kenikmatan intrinsik dalam berbuat baik.

Tinggalkan Balasan