Simbah dan Secangkir Teh di Pagi Hari

Pagi itu, embun masih bergelantungan di ujung-ujung daun ketika suara lantang dari mushala kecil membelah kesunyian Jombang. Suara itu datang dari seorang kiai sepuh yang duduk bersila di serambi pesantren, dengan janggut putih yang menjuntai rapi dan sorban lusuh yang menjadi saksi usia dan perjuangan. Dialah Kiai Hasyim Asy’ari — atau yang para santri biasa panggil “Simbah.”

Pesantren Tebuireng masih lengang. Hanya suara ayam berkokok dan dedaunan yang bergesekan tertiup angin pagi. Di serambi itu, Simbah duduk ditemani secangkir teh yang mengepul. Bukan teh mahal dari toko-toko besar, melainkan teh kampung, diseduh dengan gula batu oleh santri dapur. Namun, bagi Simbah, teh itu sudah cukup menjadi teman setia dalam merenung dan mengingat Allah di awal hari.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tak lama kemudian, seorang santri muda datang menghampiri. Namanya Sahal, santri asal Jepara yang baru dua tahun mondok. Ia membawa baki kecil berisi sepotong roti singkong dan sebungkus tempe goreng yang baru diangkat dari wajan.

“Sugeng enjang, Mbah,” ucap Sahal sambil menunduk, mencium tangan Simbah.

Simbah mengangguk pelan. “Sugeng enjang, Le. Alhamdulillah… awakmu sehat?”

“Inggih, Mbah. Alhamdulillah. Mbah sehat juga?” tanya Sahal dengan suara pelan dan sopan.

Simbah tersenyum. “Sehat itu bukan sekadar badan, Le. Kalau hati kita dekat sama Gusti Allah, insyaallah semua akan baik-baik saja.”

Tinggalkan Balasan