Mari Bermain Domino…

Jika pendekatan formalistik cenderung terjebak pada bentuk luar (zahir) suatu perbuatan, maka pendekatan substansialistik lebih menekankan pada substansi dan tujuan (maqashid) di balik hukum tersebut.

Pergeseran ini sejalan dengan semangat pembaruan pemikiran Islam yang digagas oleh para reformis seperti Muhammad Abduh dan Rashid Rida. Dalam Tafsir al-Manar, Rashid Rida menegaskan bahwa Islam sebagai agama yang shālih li kulli zamān wa makān harus mampu memberikan jawaban yang relevan terhadap problem-problem kontemporer tanpa mengorbankan prinsip-prinsip fundamentalnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Fatwa sebagai Instrumen Moderasi

Di tengah maraknya isu radikalisme dan konservatisme yang kerap menggunakan interpretasi agama yang rigid, fatwa domino MUI menjadi contoh penting bagaimana otoritas keagamaan dapat berperan sebagai instrumen moderasi. Keputusan ini menunjukkan bahwa Islam Indonesia mampu memberikan ruang untuk budaya populer tanpa kehilangan identitas religiusnya.

Lebih dari itu, fatwa ini juga merefleksikan kematangan umat Islam Indonesia dalam menghadapi tantangan modernitas. Alih-alih defensif atau reaktif, umat Islam Indonesia, melalui lembaga seperti MUI, menunjukkan sikap proaktif dan adaptif dalam merespons perubahan sosial.

Lesson Learned dari Fatwa Domino

Fatwa halal domino MUI bukan sekadar keputusan tentang permainan kartu. Ia adalah manifestasi dari pergulatan intelektual yang dalam antara tradisi dan modernitas, antara tekstualitas dan kontekstualitas, antara universalitas dan lokalitas.

Fatwa ini mengajarkan kita bahwa hukum Islam, ketika dipahami dengan metodologi yang tepat, mampu memberikan jawaban yang bijak dan kontekstual terhadap problem-problem kontemporer.

Bagi para santri dan aktivis Islami, fatwa domino MUI menjadi case study yang menarik untuk memahami dinamika metodologi fatwa dalam Islam kontemporer. Ia menunjukkan bahwa tradisi  hukum Islam tidak berhenti pada masa lampau, tetapi terus hidup dan berkembang, menjadi “maps” yang relevan bagi umat di setiap zaman.

Kembali ke warung kopi tadi, kini sang santri muda tersenyum lega. Ia tidak perlu lagi merasa bersalah ketika sesekali ikut bermain domino dengan para sesepuh kampung.

Tinggalkan Balasan