Secara umum, sebagaimana diperjuangkan oleh para feminis, musibah gender yang menimpa perempuan terangkum sebagai berikut: Pertama, marjinalisasi atau peminggiran hak terhadap kaum perempuan baik dari segi politik, pendidikan, sosial, dan lain lain.
Kedua, subordinasi oleh kaum patriarki. Perempuan hanyalah dianggap sebagai pelengkap saja, yang oleh kalangan agamawan disebut sebagai pelengkap tulang rusuk laki laki sebelah kiri.

Ketiga, streotype atau pelabelan negatif terhadap perempuan. Salah satunya perihal penampilan dan tingkah laku, perempuan memiliki ruang lingkup yang sangat dibatasi.
Keempat, kekerasan yang marak terjadi di berbagai tempat. Mereka dianggap sebagai kaum lemah yang dapat diperlakukan sesuka hati.
Akhirnya, bagaimana masa depan perempuan yang selalu dianggap lemah, dikesampingkan dan terus dikorbankan?
Melihat dari berbagai gejala dan fenomena yang terus menerus terjadi, perempuan dan laki laki masa kini adalah korban dari struktur dan sistem yang telah lama terbentuk. Hal itu senada dengan pandangan Betty Freiden bahwa lelaki bukanlah musuh, tetapi juga korban. Musuh sesungguhnya adalah perempuan yang mempermalukan diri sendiri. Selama ini mereka terbelenggu dengan sifat keputrian mereka sendiri, kebahagiaannya termarjinalkan hanya dengan mengurus rumah dan anak. Akan tetapi kebahagiaan tidaklah sama dengan pemenuhan hidup, karena manusia terus berubah.
Di sinilah titik persoalan yang harus diselesaikan. Jadi perubahan terhadap masa depan perempuan harus dimulai dari pola pikir perempuan itu sendiri.
