Masa Depan Pesantren di Tengah Pandemi

Mereka yang positif Covid-19 tapi luput dari pengetesan dan berkeliaran di tengah masyarakat sebagai OTG (Orang Tanpa Gejala) maupun yang sakit namun memilih untuk pergi ke pengobatan alternatif alih-alih ke fasilitas kesehatan seperti Puskesmas atau Rumah Sakit, kita tidak pernah tahu berapa jumlah pastinya. Di Indonesia sendiri, kebijakan tes swab massal belum dilakukan sehingga jumlah pasti orang yang terinfeksi Covid-19 masih belum bisa diketahui.

Sementara itu, new normal yang mulai dilakukan sejak beberapa bulan terakhir ini memungkinkan orang untuk semakin banyak keluar dan berkumpul seolah-olah new normal bermakna bahwa keadaan mulai aman. Padahal kasus kematian dokter karena Covid-19 sudah melewati angka 100. Belum lagi petugas kesehatan yang wafat karena wabah ini. Semua itu bukan angka-angka statistik belaka karena angka itu adalah nyawa-nyawa ayah, anak, istri, ibu, adik, kakak bagi keluarga yang ditinggalkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Lalu bagaimana dengan kehidupan pesantren di tengah pandemi?

Dalam beberapa bulan ini, kita mendengar beberapa pesantren sudah mulai menerima santri-santri kembali untuk beraktivitas mengaji dan tinggal di asrama. Budaya di pesantren yang umumnya tidak memungkinkan adanya jaga jarak antarsantri terutama bagi yang tinggal di asrama sama, kemudian kamar mandi dengan fasilitas kolah/bak mandi besar yang dipakai bersamaan memungkinkan kurang terjaganya kehigienisan air, serta kebiasaan-kebiasaan lain membuat betapa susahnya dilakukan protokol kesehatan di tengah pandemi ini.

Beberapa hari terakhir, kita mendengar beberapa pondok pesantren menjadi kluster baru penularan Covid-19. Angka terinfeksi positif pada santri di beberapa pondok pesantren ada yang mencapai puluhan bahkan ratusan. Jika kita memasukkan lema: “santri positif covid” di mesin telusur web seperti google, kita akan menemukan data-data yang cukup mengagetkan. Meskipun beberapa santri yang positif terinfeksi Covid-19 tidak menunjukkan gejala sakit, tetapi fakta bahwa virus ini berbahaya tidak bisa diabaikan.

Tinggalkan Balasan