Memang, di beberapa pondok pesantren sudah lumayan ketat menerapkan protokol kesehatan, misalnya dengan tidak menerima tamu atau pengunjung, mewajibkan rapid test bagi santri yang kembali ke pesantren, mewajibkan semua penghuni pesantren mengenakan masker, tetapi masih banyak pesantren lain yang tidak menerapkan protokol kesehatan. Ada banyak pesantren yang semuanya biasa saja seolah-olah pandemi ini tidak ada; tidak ada orang memakai masker, tidak ada pembatasan pengunjung, dan lain sebagainya. Yang memprihatinkan adalah jika pengasuh pesantrennya abai dengan protokol kesehatan, maka bisa dipastikan para santrinya pun juga akan abai dengan protokol kesehatan.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa pandemi ini masih akan berlangsung lama. Perkiraan siapnya vaksin paling cepat adalah Maret 2021. Itu pun nanti akan dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sementara itu, angka positif Covid-19 di Indonesia masih terus naik dan belum menunjukkan tanda-tanda menuju zero case.

Yang cukup mengkhawatirkan adalah penanganan pandemi di lingkungan pesantren. Akan sangat berat, jika sebuah tempat yang menampung ratusan santri, ustadz, ustadzah, dan keluarga pengasuh pesantren yang terus berinteraksi setiap hari tidak melakukan pembatasan tamu/pengunjung serta mengabaikan protokol kesehatan seperti wajibnya penggunaan masker, jaga jarak, dan penyediaan tempat-tempat cuci tangan bersabun.
Edukasi terhadap lingkungan pesantren harus terus dilakukan tidak saja pada kalangan santri, tetapi juga pengasuh dan ustadz-ustadzah di pesantren. Harapannya, jika para pengasuh dan ustadz-ustadzah taat dengan protokol kesehatan, akan lebih mudah “memaksa” para santri untuk juga taat dengan protokol kesehatan. Kampanye dalam berbagai bentuk serta penguatan literasi juga tidak bisa diabaikan. Para santri yang sudah memiliki kesadaran akan pentingnya protokol kesehatan harus bergerak untuk membantu menyadarkan teman-teman serta lingkungan yang kesadarannya masih rendah.
Hanya dengan upaya-upaya tanpa henti seperti inilah, pesantren bisa bertahan di tengah pandemi. Jika protokol kesehatan terus diabaikan, maka dalam waktu singkat kita hanya akan mendapati berita-berita tentang munculnya kluster-kluster baru dari pesantren-pesantren; sesuatu yang sangat tidak kita harapkan untuk terjadi.
