Masjid Tanpa Dinding

“Diam!”

Satu entakan suara itu membuat semua kerumunan yang riuh itu hening bagai air telaga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Bolehkah saya lewat?” si takmir dengan sopan dan nada halusnya meminta jalan.

Kerumunan itu membelah dengan sendirinya. Bahkan cengkraman tangan polisi yang menempel di bahu takmir seketika udar dengan sendirinya. Takmir itu lalu berjalan ke arah pemuda 24 tahun itu.

“Entah tanggal berapa, tapi setidaknya aku tak lupa beberapa tahun lalu. Seorang anak menangis di depan rumahnya yang menyala. Itu kau kan?.”

“Iya pak, dan dendam itu masih berkobar di sini,” sambil menunjuk dadanya.

“Masjid tak berdinding ini karena kalian membawa semua hartanya bukan? Padahal dengan ketulusan pria itu datang dari perantauannya bersama anak istrinya untuk membantu. Kini semuanya setimpal pak.”

“Maafkan bapak, dulu memang kami terkena hasutan orang itu. Meskipun, setelahnya kami tahu bahwa kami ditipu.”

Semuanya kembali ke desa tersebut saat ayah Soften ingin membangun masjid di lahan bekas buyutnya. Namun semua berkas diambil dan diakui oleh kepala desa yang lama, diatasnamankan miliknya, dan menuduh ayah Soften sebagai penipu. Menfitnahnya bahwa masjid cuma akal-akalan untuk menutup pekerjaan ayahnya yang sebenarnya pengedar narkoba. Walaupun beberapa tahun lalu, warga desa melihat di berita, bahwa ada orang-orang di balik layar yang menyelidiki kasus korupsi di pelosok desa. Dan salah satunya adalah ayah Soften.

Namun sebelum ada penjelasan, warga desa terburu dimakan amarah. Rumah Soften dibakar, dia dan ibunya diusir. Dan ayahnya diamuk massa dan tanpa sengaja terbunuh ketika warga mengeroyoknya.

“Maafkan saya.”

“Tak ada kebijaksanaan yang dibangun dari kebohongan. Dan tak ada kedamaian bagi orang yang menutupi kebenaran.”

Akhirnya sang takmir menyerahkan dirinya. Atas tuduhan pembunuhan dan provokasi massa yang dia lakukan pada ayah Soften. Serta pencurian berencana atas hak milik tanah dari ayah Soften yang dilakukannya dengan mantan kepala desa yang masih buron.

Tinggalkan Balasan