Masjid Tanpa Dinding

“Memang ada barang apa di sini?” Tanya Pak Gilbas enteng.

“Kita terlalu banyak hidup dalam ketakutan, Le. Bahkan masalah hal yang harusnya jadi prerogatif Tuhan juga kita takutkan. Seakan dia gak bisa liat aja,” kelakarnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tak ada tujuan lain kenapa di masjid itu tak dibangun berdinding. Bukan karena tak cukup dana. Bahkan kamar mandi masjid terlihat lebih mewah daripada bangunan utamanya. Semua dana yang diperuntukkan untuk pembangunan masjid dibagikan kepada orang-orang yang tak mampu. Bisa dibilang tak ada rasa nyaman ketika beribadah di sana.

“Lah nyaman itu kan masalah rasa, bukan penempatan dhohir atas diri kita. Meskipun tempat juga mempengaruhi.”

“Yang terpenting itu hati, yang membatasinya itu isi kepala. Dan yang menjalaninya itu raga.”

Pemuda itu termenung sejenak. Merekam semua pembicaraannya dengan sang takmir. Mencari celah untuk kembali melayangkan pertanyaan demi pertanyaan. Namun semakin dia bertanya, semakin dia tersekap pula pada pertanyaannya sendiri. Seakan lamunannya melayang ke masa lalu. Saat lukanya terbuka lebar melihat api yang meluap-luap.

“Mas?”

“Bagaimana dengan hati yang penuh dendam?” Soften bertanya tanpa mengedipkan mata. Menatap sang takmir sedikit dalam.

“Ada yang bilang mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa. Tapi itu tak mengubah apa pun,” jawab sang takmir.

“Ada bara di matamu mas, dan nyala apinya hitam. Bila itu berkenaan dengan kami, saya meminta maaf dengan amat sangat.”

Tak lama setelah takmir membicarakan hal itu Soften berpamit.

Esok harinya di sebuah surat kabar, ada berita tidak mengenakkan. Dari hal tersebut siangnya beberapa polisi datang, meminta keterangan pada tetua adat di sana. Meskipun didampingi oleh kepala desa, namun tetua yang juga takmir itu merasa bertanggung jawab, dan harus menjelaskannya di kantor kepolisian.

Di sela kerumunan wartawan yang juga datang berduyun meminta keterangan, terlihat Soften juga mengamati dari kejauhan.

Tinggalkan Balasan