Mataku Mata Ibu

“Ibu menangis?” tanyaku pada Ibu. Matanya kelihatan sembab.

“Tidak, Cah Ganteng,” jawabnya. Lalu, Ibu meninggalkanku ke kamar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Seusai makan, aku segera menghampiri Ibu ke kamarnya. Ternyata pintunya tertutup. Aku buka pintu itu hingga menimbulkan derit. Ibu terperanjat lalu menolehkan wajahnya kepadaku. Kurasai, Ibu benar-benar melihatku. Teman-temanku pasti bohong!

“Ibu masih menangis?” tanyaku.

“Tidak, Cah Ganteng.”

Ibu menangis. Kali ini, tangisan Ibu sangat jelas. Ibu benar-benar sedang menangis.

***

Suara sepeda motor terdengar dari luar rumah. Aku hafal betul, itu adalah suara sepeda motor butut Ayah. Aku segera keluar dari kamar Ibu dan membuka pintu untuk Ayah. Sejurus kemudian, Ayah masuk rumah, lalu mencium keningku.

“Mana ibumu?”

“Di kamarnya, Yah.”

Ayah bergegas ke kamar untuk menghampiri Ibu. Aku mengikutinya dari belakang.

“Dokter Joko bilang, Dik, kalau matamu masih bisa disembuhkan,” kata Ayah pada Ibu. “Aku tadi habis konsultasi di rumah sakit.”

“Alhamdulillah, Mas,” tukas Ibu.

Oh, jadi benar apa yang dikatakan teman-temanku, bahwa Ibu memang buta. Aku tidak suka dengan Ibu yang ahli berbohong. Ibu selalu mengatakan sibuk jika kuminta untuk mengantarkanku ke sekolah. Ibu tidak pernah mengatakan kalau Ibu adalah wanita buta.

Esoknya, aku berangkat ke sekolah. Teman-teman masih saja menghina kebutaan Ibu. Telingaku sakit oleh hinaan mereka. Aku tak terima dikatakan anak mantan pelacur dan anak orang buta. Aku merasa terhina. Ingat! Aku merasa terhina. Hinaan mereka akan berhenti ketika guru masuk kelas. Setelah jam pelajaran habis dan guru keluar kelas, mereka menghinaku lagi. Mereka mencaciku lagi. Ah, sungguh malang punya Ibu mantan pelacur dan buta.

Sepulang sekolah, Ayah sudah berada di ruang tamu.

“Ayo ikut ke rumah sakit! Ibumu mau operasi mata,” seru Ayah.

Aku bahagia karena Ibu akan sembuh dan bisa melihat lagi, seperti ibu pada umumnya.

Sesampai di rumah sakit, sambil digendong Ayah, Ibu dibawa di sebuah ruangan, lalu ditidurkan di atas ranjang. Mata Ibu berkilau.

“Doakan Ibu, Cah Ganteng,” katanya, “Teman-temanmu di kelas sering mengejekmu, iya, Nak?”

“Kenapa Ibu tidak bilang kalau Ibu buta!” bentakku pada Ibu. “Kata ibu-ibu mereka, Ibu juga mantan pelacur.”

Tinggalkan Balasan