Matinya Hiperrealita

Pandemi Covid-19 ini ibarat tombol resert. Sekali ditekan langsung semua berbondong-bondong menuju ke titik awal. Kita sudah merasakan PSBB, di mana pada masa itu kita diarahkan untuk melakukan segala hal yang kita butuhkan saja. Ini kabar buruk untuk usaha seperti pariwisata, hotel, mal, kafe-kafe, dan semua usaha yang menjadikan citra, luxury, atau prestise sebagai core bisnisnya.

Pembatasan social itu adalah hantu bagi usaha-usaha tadi. Di mana letak kesalahannya kalau begini? Benarkah kehidupan sosial benar-benar dibatasi?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebetulnya tidak salah. Karena yang terjadi sesungguhnya bukanlah pembatasan social, tetapi mengembalikan kehidupan sosial kita ke titik yang wajar ketika kehidupan sosial kita sudah benar-benar overdosis (Rp 40 ribu hanya untuk segelas kopi?).

Kesalahannya adalah coffee stall global membasiskan bisnisnya kepada materi yg imajiner (citra, luxury, prestise, status). Kalau Anda mengira mereka itu menjual minuman/makanan sebetulnya tidak. Bisnis mereka adalah jual-beli simbol. Simbol akan berubah menjadi status manakala kehidupan sosial manusia didorong sampai puncak di luar kebutuhan wajar manusia, dan ketika ruang manusia untuk saling bertemu hancur lebur seperti hari ini saat itulah simbol-simbol itu runtuh nilai jualnya.

Apakah ini pertanda buruk? Yap, ini pertanda buruk, yang menunjukkan betapa lugunya kita kemarin yang selama ini rutin bekerja 8 jam sehari dan 5 hari seminggu hanya untuk mengongkosi kebutuhan imajiner (hiperrealita) kita. Kemarin kita benar-benar dijauhkan dari apa yang benar-benar kita butuhkan. Kita malah membiayai ilusi.

“New Normal” adalah hancurnya sebuah abnormalitas dan kembalinya sebuah kehidupan normal. Sebelum revolusi industri, kehidupan itu relatif sangat normal. manusia setara bekerja untuk kebutuhannya. Ketika ngopi, mereka ya ngopi untuk menghilangkan penat. Kedai kopi pun sebagai ruang publik untuk saling guyub berinteraksi, bukan ruang halusinasi atau untuk menyendiri. Selesai ngopi, kembali ke kehidupannya (bukannya pindah kasta). Upah yang mereka dapat pun untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Bukan untuk “membeli” merek.

Ketika kondisi di atas dihantam kejadian luar biasa seperti pandemi, kemungkinan tidak akan sedramatis seperti yang terjadi hari ini. Hari ini ribuan pekerja menggantungkan hidupnya pada bisnis imajiner seperti mal, coffee stall global. Bisa terbayang efek domino kehancurannya… rubuh satu sirna banyak. Ribuan pekerja terancam kehidupannya seiring hilangnya pekerjaan mereka. Mereka teralienasi dari pekerjaannya sehingga merasa bukan siapa-siapa dan tidak berdaya ketika hilang profesinya.

Sudah waktunya dunia usaha imajiner itu merombak plan bisnisnya ke usaha yang nyata (riil) dan beradaptasi bila ingin survive hari ini. Alih-alih mempertahankan bisnis yang sama seolah-olah  kita masih hidup di dunia kemarin (gagal move on).

Tinggalkan Balasan