“New Normal” adalah sebuah terapi psikis dan efek kejut bagi kita untuk memikirkan ulang, untuk introspeksi betapa rapuhnya kehidupan sosial kita kemarin bak jaring laba-laba besar. Tertata, tersistem, dan terstruktur rapih dan masif tetapi tidak kita sadari begitu rapuh dan labil ketika sebuah batu menimpanya.
“New Normal” mendorong kita untuk fokus dan mengefisiensikan tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang kita butuhkan saja, dan petunjuk atas matinya kebutuhan halusinasi kita. Seolah hidup kita serba dicukupkan. Kita didorong memikirkan kembali apa yang benar-benar kita butuhkan. Kembali ke jati diri dan fungsi diri kita yang nyata.

It’s all done. We’ are shifting.
Change or we die. Get real.
Dunia kita yang kemarin sudah mati. Dunia hari ini ibarat sebuah rumah sakit yang besar. Dan kita tergeletak di dalamnya dan hanya berpikir untuk tetap sehat dan tetap hidup. Pernah lihat orang selfie saat tergeletak sekarat di rumah sakit ? Itulah matinya hiperrealita.
Jika Baudrillard di tahun 1980-an lalu sudah memikirkan kondisi hiperrealita, sesungguhnya saat itu dia sudah melihat bahaya dan sedang menyalakan simbol SOS (save our soul) itu kepada kita agar kita lekas sadar dan menyelamatkan diri bahwa kita berdiri di atas bom waktu.
New Normal? Welcome normal life.
Keep waras, keep alive!
