Maklum, Ngajiman tidak pernah menggali liang kubur di satu makam yang sama. Selama dua tahun bekerja sebagai penggali kubur, Ngajiman belum pernah mengalami hal seperti itu. Baginya, saran Rebani konyol. Dipikirnya: bagaimana kalau nanti Munkar dan Nakir salah menanyai mayat yang lama?
“Iyalah!” tukas Rebani. “Di kota, hal seperti ini sudah biasa, Man.”

Akhirnya, dengan terpaksa Ngajiman menggali makam tua itu. Karena hari sudah gelap, Rebani meminjam lampu dari rumah yang ada di dekat makam, lalu menaruhnya di dekat Ngajiman sebagai penerang.
Di tengah-tengah menggali, Ngajiman melihat kain kafan.
“Kain kafan, Reb,” kata Ngajiman pada Rebani yang sedang merokok di dekatnya.
“Biasa, Man. Teruskan saja!” seloroh Rebani.
Ngajiman pun meneruskan galiannya. Baru dua cangkulan, kakinya seperti menginjak sesuatu. Ia berhenti menggali, lalu duduk di dalam liang kubur —yang belum selesai ia gali itu— dan menarik kain kafan itu. Bukan kepalang, kain kafan itu masih bersih dan putih.
“Reb, Reb!” serunya pada Rebani keheranan.
“Ya.”
“Kafannya kok masih putih, Reb? Jasadnya sepertinya juga masih utuh.”
“Ada-ada saja kau, Man.”
Bagi Rebani, jasad utuh adalah khusus bagi orang-orang yang mulia. Apalagi di kota —ia sering menemani tukang penggali kubur di pemakaman kota — sekalipun tidak pernah ia lihat jasad utuh di pemakaman.
“Iya, sini!”
Rebani pun berdiri dan beranjak menghampiri Ngajiman. Ia melihat ke dalam liang yang Ngajiman buat.
“Turun sini, Reb!” pinta Ngajiman dari dalam liang kubur.
Rebani menuruni liang kubur dan merasakan seperti menginjak sesuatu yang lembek.
Ngajiman menarik kain kafan putih itu lebih panjang, dan benar saja: jasad si empu makam masih utuh. Kain kafannya putih bersih. Ngajiman dan Rebani ketakukan.
