Bagaimana mungkin makam yang dipenuhi rayap dan dipenuhi lumut, jasadnya masih utuh? Apa rahasia orang ini? pikir Ngajiman.
“Bagaimana ini, Reb?” tanya Ngajiman sambil naik ke atas. Rebani ikut naik ke atas.

“Sudah telanjur. Jenazah juga telah sampai di dekat pemakaman, Man. Mau tak mau, sekarang juga harus dikuburkan. Toh hari sudah malam.”
Malam itu juga, jenazah dikuburkan di makam tua itu. Perasaan Ngajiman dan Rebani masih janggal.
***
Karena sudah lama sakit, Ibuku menyuruh agar aku pulang saja dari pondok. Ia menyarankan agar aku pijat di Mbah Pardi. Aku menurut; aku pulang ke rumah untuk pijat.
Setelah sampai rumah, esoknya Ibu menyuruhku pijat di Mbah Pardi. “Selama Covid-19, rumah Mbah Pardi selalu ramai pasien, Cung,” ucap Ibuku. Aku pun menuju rumah Mbah Pardi untuk pijat.
Sampai di sana, ada Mbah Kaji Sarmuji yang sedang dipijat oleh Mbah Pardi. Dan ada pula Ngajiman di sana.
“Kamu anaknya Pak Fadlun to, Le?” tanya Mbah Kaji Sarmuji dalam bahasa Jawa.
“Inggih, Mbah Kaji,” jawabku.
Mbah Kaji Sarmuji adalah seorang kiai di desaku. Ia pernah mondok di Pesantren Langitan. Di sela-sela memijatku, Mbah Pardi ngobrol dengan Mbah Kaji soal kematian.
“Orang mati itu menurut kebiasaanya, Mbah. مات الناس على ما عاش عليه.” Mbah Kaji Sarmuji ndalil.
“Iya, Mbah Kaji,” seloroh Mbah Pardi.
“Aku kemarin menyaksikan jasad yang masih utuh di dalam kubur, Mbah,” sahut Ngajiman yang sedang duduk menikmati kopi yang disuguhkan.
“Iya, aku juga dengar kabar itu dari Mbah Srimi,” jawab Mbah Kaji. “Itu namanya Mbah Komplang, Le. Dia itu yang mewakafkan tanah untuk dibangun Masjid Al-A’la itu, lo. Makanya tak heran kalau jasadnya utuh. Kata orang, beliau juga ahli selawat.”
***
Aku mendengar cerita yang aku sampaikan ini dari Si Empu cerita sendiri: Ngajiman. Aku bertanya kepadanya sesaat setelah dipijat Mbah Pardi. Ya begitulah kurang lebih ceritanya.
