Mbah Ubaid dan Petani yang Kehilangan Lahan

Yang menjadi pilihan dari judul buku dipilih dari salah satu tulisan di dalam buku ini, yaitu “Petani kehilangan lahan”. Memang, selain merupakan tokoh agama dan tokoh sentris pada jajaran struktural Nahdlatul Ulama di Jawa Tengah, Mbah Ubaid tidak jauh dari asal yang membentuknya hingga menjadikannya sekarang. Dalam sebuah wawancara dengan NU Online, Mbah Ubaid mengatakan, “Saya lahir dari guru madrasah diniyah dan petani di wilayah Demak yang tahun 76 dimasukkan wilayah Semarang.” Sabtu, (9/3/2024).

Jelas bahwa Mbah Ubaid juga merupakan keturunan seorang petani dari sosok ibunya. Barangkali karena itu, kehidupan seputar petani tak lepas dari pengamatan Mbah Ubaid. Bagaimana pun, sebagai seorang tokoh, Mbah Ubaid mampu merasakan dan mendekatkan dirinya pada kepayahan dan kesusahan umat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hal tersebut terasa dari kalimat yang tertulis dalam buku Petani Kehilangan Lahan ini: “Pertanian bukan sekadar urusan menanam dan penen, tetapi juga ibadah yang membawa berkah bagi kehidupan. Ketika tanah digarap dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, hasilnya bukan hanya pangan yang sehat, tetapi juga keberlanjutan untuk generasi mendatang.” (hlm 25)

Kutipan tersebut merupakan penyadaran penting bagi generasi sekarang untuk mengetahui bahwa investasi bukan hanya dalam bentuk materiil. Tetapi, bisa juga dalam bentuk kebijakan kita terhadap alam dan warisan kelestarian lingkungan yang diturunkan kepada anak cucu dan generasi setelahnya. Dan, itulah bentuk dari sebenar-benarnya keberkahan karena memberikan kemanfaatan panjang dan keuntungannya dapat dirasakan oleh banyak pihak.

Menimbang-nimbang bagaimana perlakuan manusia dan kebijakan tentang konservasi lingkungan dan alam terus-menerus digerus oleh nafsu rakus manusia hingga hari ini. Maka, pentingnya mulai sekarang untuk memperhatikan, mempedulikan, dan bertanggung jawab terhadap alam yang kita keruk demi kepuasan apalagi hanya untuk keuntungan semata.

Karena sebab itulah Mbah Ubaid dalam buku ini juga turut menyuarakan keresahan masyarakat kecil –masyarakat yang dalam konstelasi politik hanya dibutuhkan lima tahun sekali dan aspirasinya sering kali diabaikan.

One Reply to “Mbah Ubaid dan Petani yang Kehilangan Lahan”

Tinggalkan Balasan