Dalam konteks yang lebih luas, seorang yang disebut ulama bukanlah seseorang yang hanya cerdas, pandai, dan piawai dalam pengetahuan agamanya. Tetapi, juga yang menjalankan moral, spiritualitas, dan menghubungkan nilai-nilai kemasyarakatan/lokalitas dengan basis keilmuan keagamaan yang dimiliki.
Maka, seorang Mbah Ubaid termasuk sosok yang pantas menjadi teladan bagi umat dan masyarakat, seperti yang dituliskannya: “Ilmu agama bukan sekedar teori, tetapi jalan hidup yang membentuk keyakinan, perilaku dan akhlak” (hlm 45)

Tidak hanya itu. Tulisan-tulisannya di dalam buku ini juga membahas persoalan keagamaan masyarakat yang kerap menggunakan pemikiran pendek, instan, dan pragmatis.
Pembahasan atau tema judul di buku ini beragam, namun dikumpulkan (diharapkan mampu memahaminya dengan mudah) menjadi satu isi buku yang saling memperindah dan menyelesaikan dinamika kehidupan bersama.
Dengan narasi sederhana dan ringan, tulisan di dalam buku ini dibuat seperti alih wahana penyampaian dari lewat suara ke bentuk tulisan –yang barangkali akan mudah kita pahami karena terus membacanya ulang– hingga dapat dengan mudah dipahami dan dimengerti.
Data Buku:

One Reply to “Mbah Ubaid dan Petani yang Kehilangan Lahan”