Medsos sebagai syarat fundamental change mesti masif dan berkelanjutan. Tidak hanya sekali, dua kali, lalu mati suri, hidup lagi, mati lagi. Menempatkan media selaku perantara kebaikan niscaya dampaknya terasa bukan di dunia maya saja. Melihat pengguna media adalah manusia, sudah barang wajib, secara otomatis, ia sedikit banyak mempengaruhi episteme dan laku manusia di dunia nyata. Perlahan tapi pasti mengubah.
Aplikasi berselancar di medsos, kini mudah dijumpai menggunakan gadget, ya, gadget. Dulu, sebelum punya gadget, saya mesti bolak-balik warung internet (warnet) untuk membuka facebook. Kalau dipikir kembali, banyak waktu terbuang hanya untuk duduk di warnet. Bila menyaksikan sekarang, sangat entengnya kita bisa membuka medsos sambil tiduran, makan-makan, atau waktu santai.

Medsos yang kini amat simple ditaruh di saku celana, memungkinkan pula orang sering membukanya. Nah, di sinilah kita memanfaatkan kesempatan di balik kemudahan, semakin mudahnya orang membuka medsos mereka, semakin banyak pula postingan bernuansa membangun itu harus ikut tersebar.
Jadi, setiap hari, mereka tak luput untuk membaca postingan sederhana tentang pentingnya senyum di pagi hari, indahnya maha karya puisi, atau hebatnya biografi orang-orang seperti Bill Gates dan Jalaluddin Rumi.
Cara ini amat sangat mendukung terhadap usaha menemukan teori baru, penelitian baru, serta inspirasi karya baru bagi sebagian akademisi atau ilmuan. Bagaimana tidak, beranda medsos menyuguhkan itu semua. Orang-orang men-share kenyataan psikologis, fakta sosial, dan ide-ide terbarukan mereka.
Selain itu, gerakan besar medsos berideologi kebaikan ini, bisa dibentuk semacam komunitas peduli media. Orang-orang yang satu pemahaman untuk memperbaiki media, bisa menghimpun gerakan sosialisasi lewat media. Semua stake holders tergabung di sana. Nantinya, dibuatlah semacam rencana sistematis terkoordinisasi, mau diisi apa media hari ini, begitupun selanjutnya.
Kita bisa membayangkan sendiri, bila ini gencar dilakukan. Tidak ada kata terlambat untuk mengubah asumsi buruk tentang media yang selalu diisi postingan dan komentar tak sedap (bahasa halus dari ujaran kebencian).
Ketika gerakan peduli media ini yakin seyakin-yakinnya siap mengubah lalu lintas kehidupan di medsos, manusia-manusianya bertekad, berusaha sekuat pikiran dan tenaga untuk mengembalikan nama baik media, pun rela menyisihkan sebagian gaji dan hartanya untuk membeli kuota internet, yakinlah maka yakinlah.
