Media, Surga yang Dirindukan

Ini bukan masalah serius, tapi usaha menyikapinya harus lebih serius dari masalahnya itu sendiri.

Kebiasaan menyatakan sikap benci di medsos, kemungkinan disebabkan setidaknya dua hal: pengguna medsos tersindir atas komentar (berikut postingannya) atau merasa tersakiti di dunia sosialnya lalu melampiaskan kecamuk kebenciannya di medsos. Tiada yang tahu pasti.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meskipun mampu membuat kita membaca ragam berita, medsos tak punya kemampuan spesialis menganalisis karakter penggunanya, situasi riil penggunanya. Sehingga tak heran, ujaran kebencian itu bisa jadi bukan sebenar-benarnya dilakukan karena tersindir atau mengalami tekanan psikologis, melainkan sengaja direkayasa, dibuat pancingan agar orang panas dan bereaksi serupa.

Lepas dari rekayasa bermedsos tersebut, kita tak boleh menutup mata bahwa itu benar-benar fakta. Apa pun kondisinya, ini kaitannya dengan etika bermedsos. Medsos bukan semata-mata tempat destinasi, yang orang seenaknya berbuat semau hati, ada kaidah penting berlaku di dalamnya, yakni menghargai pengguna lain dalam berdestinasi.

Kaidah aturan di medsos tak tertuliskan runtut baku berpasal-pasal layaknya undang-undang negara. Kaidah aturan pengguna medsos tertulis di masing-masing diri, ingin diarahkan ke mana, untuk apa. Atas dasar ini, perubahan sikap di medsos bukan menunggu instruksi presiden atau menteri komunikasi, melainkan kembali pada kontruksi sadar setiap penggunanya.

Di dunia maya, seperti facebook atau jenis medsos lain, kita tidak harus menerima mentah-mentah informasi yang ada, melainkan harus tumbuh kesadaran untuk menetralisasi, meluruskan, dan mengganti kebiasaan buruk itu. Di titik krusial ini, menjadi sangat penting sebenarnya orang-orang baik harus punya medsos. Bila punya, sangat penting untuk aktif terus di medsos. Bukan untuk hal lain, tapi demi mengembalikan marwah media yang terdistrosi menjadi lumbung kebencian.

Usaha kolektif terjun ke medsos ini, dianjurkan sesuai bakat atau bidang yang ditekuni. Misal pemuka agama mendakwahkan nilai-nilai toleran, santri dengan mauidzah hasanah-nya, mahasiswa menggelorakan gagasan solutifnya, sastrawan dengan karya-karya agung monumental mereka, dan seterusnya. Dengan begitu, beranda akan penuh sesak dengan sesuatu yang berguna dan berkemanfaatan. Lambat laun, pengguna akan mengikuti, men-share, dan meniru. Ini adalah proyek besar luar biasa.

Untuk memulai proyek besar ini, dibutuhkan kesadaran dan keikhlasan. Mengapa, karena ada tujuan mulia di baliknya, ada nilai tersendiri di belakangnya, yaitu mengembalikan jati diri media yang terombang-ambing dibawa badai nir-etika. Sekali lagi, hanya bermodal kuota internet tanpa harus menempuh ekspedisi melintasi batas samudera dan benua. Sederhana, bukan ?

Tinggalkan Balasan