Melawan Hoaks dengan Literasi

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Artinya: “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar.” (HR. Muslim Nomor 7).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hadis Nabi ini, dan juga atsar dari sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, menunjukkan bahwa hukum orang yang membuat berita dusta dan orang yang sekadar menyebarkan berita dusta tersebut adalah sama, yaitu sama-sama disebut sebagai pendusta.

Sehingga, kita tidak boleh meremehkan masalah ini, dengan mengatakan bahwa kita hanya menyebarkan dan membagikan berita, bukan orang yang pertama kali membuatnya. Dari penyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa kaidah Islam dalam masalah ini adalah menyebarkan berita bohong adalah juga pembohong.

Sebagai makhluk yang diberi akal, kita harus hati-hati dalam menerima sebuah isi berita. Harus melakukan proses seleksi dan melakukan beberapa penyaringan. Tidak secara mudah menerimanya begitu saja. Karena sikap tergesa-gesa akan membuat tidak bisa berpikir jernih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

التَّأَنِّي مِنَ اللهِ , وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

Artinya: “Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra 10/104 dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 3/1054).

Selanjutnya, bagaimana tuntunan Al-Quran al-Karim terkait dengan hoaks? Ada beberapa ayat yang menyinggungnya secara langsung maupun tidak langsung. Q.S. al-Ĥujurāt/ 49: 6 merupakan salah satu ayat yang secara eksplisit memberikan tuntunan kita dalam menyikapi terhadap hoaks.

Tinggalkan Balasan