Melawan Stigma Islam sebagai “Agama Perang”

Secara lebih spesifik beliau melanjutkan bahwa ayat di atas mendorong muslim untuk menyebar kasih sayang dalam agamanya dan menjadikannya sebagai agama itu sendiri. Tidak seharusnya muncul perkataan dan perbuatan yang mengandung unsur zalim dan menyakiti.

Jika perang adalah anjuran Islam dan membunuh mereka yang tidak seiman adalah wajib maka apa arti rahmat yang harus terealisasi dalam setiap aktivitas muslim. Hal ini penting dipahami oleh umat Islam Indonesia sebagai warga negara yang memiliki karakteristik plural. Hal ini karena konflik akan selalu menghantui masyarakat plural. Terlebih jika keberagaman ini berkaitan dengan keimanan, di mana ia merupakan ranah paling sensitif di antara identitas-identitas yang lain.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Islam Payung Perbedaan

Selain itu agama perlu hadir di sini. Saya punya prediksi bahwa perjalanan peradaban dari masa ke masa ini adalah untuk satu hal, yaitu perdamaian dan menekan terjadinya konflik. Peradaban suku, misalnya—sebuah peradaban paling primitif di antara yang lainnya—ia adalah untuk menekan konflik antar individu.

Namun, ini belum selesai, sebab konflik antarsuku masih terjadi. Bergantilah pada peradaban imperium—suatu peradaban yang memiliki cakupan lebih luas dari peradaban suku. Konflik antarsuku dengan hadirnya peradaban ini bisa ditekan, namun konflik antar imperium adalah masalah baru. Sehingga hadirlah peradaban kolonialisme.

Secara sekilas ia adalah perang, namun ia adalah laku menjajah bukan menaklukkan. Orientasi penjajahan adalah menguasai teritorial dan sistem pemerintahan serta perekonomiannya, bukan menguasai fisik serta memperbudaknya. Namun, tetap saja pertumpahan darah masih terjadi. Hadirlah nation state (negara bangsa) dengan sistem blok-blok antara negara. Dan, ternyata masih terjadi konflik antar blok-blok ini.

Perang Palestina adalah contoh konkretnya. Hadirnya global goverment, suatu sistem pemerintahan global yang menyetir aktivitas semua manusia di bumi, tidak juga menunjukkan taringnya dalam meredam konflik. Hadirnya SDG’s menjadi pembeda sistem ini dengan peradaban-peradaban sebelumnya. Namun, faktanya nilai-nilai yang menjadi ciri khas ini tidak terlaksana secara maksimal.

Kegagalan ini bukan salah sistem ataupun nilai yang mereka pegang, melainkan salah manusia tidak memaksimalkan penerapannya, atau bahkan diabaikan sama sekali. Dengan demikian siapa sebenarnya yang mampu merealisasikan nilai-nilai ini—setelah beberapa peradaban telah mencoba untuk mewujudkannya.

Mungkinkah agama? Jika benar, tentu bukan agama tertentu, melainkan agama jenis baru yang menyepakati suatu nilai-nilai untuk menjadi pedoman. Bagi saya, itu mungkin saja. Hal ini karena agama abstrak sama sekali. Ia adalah nilai-nilai, yang pasti dan tak disentuh oleh kepentingan apa pun. Tak sama dengan nagara ataupun pemerintahan global, di mana keduanya masih memiliki orientasi duniawi yang melibatkan nafsu manusia.

Dan hal ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari Islam. Islam hadir, meskipun dengan perang, tetapi ia membawa perdamaian untuk mereka yang mau damai dan membawa kebinasaan untuk mereka yang mengganggu. Ini bisa kita lihat ayat-ayat rahmat di atas, di samping juga sebab diwajibkannya perang, yaitu kemungkaran dan permusuhan. Jika demikian, Islam bisa menjadi patokan utama dalam menerapkan nilai-nilai ini untuk kemudian disepakati sebagai prinsip bersama.

Tinggalkan Balasan