Melihat Inovasi Seni Tradisional dari Garut

Yang lebih menarik, ternyata festival Silat Tematik ini baru pertama kali diselenggarakan. Artinya, festival ini merupakan bentuk inovasi kreatif dari para seniman Garut yang tergabung dalam Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut (DKKG) yang dipimpin oleh Iwan Hendarsyah (Kang Jiwan).

Saat menyaksikan pertunjukan ini, terbayang dalam benak penulis bagaimana para wali melakukan rekonstruksi terhadap beberapa bentuk kesenian lokal untuk dijadikan sebagai sarana pendidikan dan menyebarkan ajaran agama. Dapat dikatakan, Festival Silat Tematik ini merupakan hasil “ijtihad kebudayaan” para seniman Garut di bidang seni pertunjukan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Penulis melihat silat tematik dapat menjadi model pendidikan alternatif  yang menyentuh dimensi afektif. Melalui kegiatan ini, sejarah tidak hanya dikenalkan sebagai pengetahuan yang hanya menyentuh aspek kognitif, sebaliknya sejarah justru dipahami sebagai laku hidup sehingga menyentuh aspek kognitif.

Mereka disentuh emosinya melalui latihan dan pertunjukan langsung. Inilah yang menyebabkan anak-anak muda merasa dapat mengenal lebih dalam para sosok bersejarah dan lebih memahami nilai-nilai yang diajarkan setelah mereka terlibat menjadi pemain atau menonton secara langsung.

Penulis membayangkan, anak-anak kecil dan para remaja yang main dan terlibat dalam pagelaran Festival Silat Tematik ini akan memiliki kesan mendalam terhadap sosok legenda dan sejarah yang dimainkan pada malam itu. Kesan yang mendalam itu akan memiliki pengaruh dalam proses pembentukan karakter si anak. Oleh karenanya, sangat layak kiranya kalau Silat Tematik ini dikembangkan dan dijadikan sebagai metode pendidikan.

Jika setiap daerah mengembangkan Silat Temarik dengan menggali legenda dan sejarah lokal  masing-masing, maka nilai-nilai dan kearifan lokal yang ada di daerah tersebut akan tertanam dengan kuat pada diri anak-anak Indonesia. Jika hal ini terwujud, maka mereka akan menjadi generasi yang tangguh dan kreatif, sehingga tidak mudah hanyut dan larut dalam pusaran arus kebudayaan yang mengepung mereka di era digital.

Tinggalkan Balasan