Dalam melaksanakan program tahfiz ini, MAN 10 Jakarta juga menggunakan guru pendamping. Di setiap kelas memiliki 1 guru pendamping. Metode yang digunakan yaitu Tadarus secara bersama, kemudian peserta didik menghafal secara individu, lalu menyetorkan hafalan kepada guru pendamping tersebut.
Di MAN 19 Jakarta, program Tahfiz Al-Qur’an juga dijadikan salah satu mata pelajaran. Bedanya, di sini dilakukan sekali pertemuan setiap minggu. Di MAN 19 Jakarta ini, setiap kelas memiliki 1 guru pendamping untuk menyetorkan hafalannya. Metode yang digunakan yaitu menghafal secara individu lalu disetorkan setiap pertemuan.

Sama seperti di MAN 19, di MAN 4 Jakarta program tahfidz Al-Qur’an juga dijadikan salah satu mata pelajaran dengan sekali pertemuan setiap minggu. Setiap kelas juga mempunyai satu guru pendamping untuk program. Di sini, setiap siswa yang mampu menghafal 1 juz selama 1 semester akan mendapatkan sertifikat tahfidz. Namun, bagi yang belum menghafal 1 juz hanya diberikan surat keterangan saja.
Itulah beberapa metode program tahfiz Al-Qur’an yang terdapat di MA wilayah DKI Jakarta. Berdasarkan metode tahfiz Al-Qur’an yang digunakan di beberapa MA tersebut, dapat dikatakan bahwa program tahfiz Al-Qur’an tersebut belum maksimal atau kurang efektif. Sebab, apabila metode tersebut tidak dilaksanakan dengan rutin, hanya dilakukan secara individu, maka banyak peserta didik yang tidak mengikuti kegiatan tersebut sehingga hasil hafalannya menjadi tidak maksimal dan tidak dapat mencapai target yang harapkan oleh pihak sekolah.
Sebaiknya, program tahfiz Al-Qur’an yang dilaksanakan di MA menggunakan metode yang lebih efektif. Misalnya, pertama, metode Wahdah. Ini merupakan suatu metode menghafal Al-Qur’an yang dilakukan dengan cara menghafal satu demi satu ayat yang ingin dihafalkannya. Untuk mencapai target hafalan, setiap ayat dibaca lima kali sampai sepuluh kali atau lebih, sehingga proses ini akan membentuk suatu pola bayangan dalam ingatan diri.
