Salah satu hal yang perlu diperkuat adalah literasi sejarah, di mana semua individu belajar bagaimana sejarah itu berjalan, membentuk sebuah peradaban. Selain itu, tujuan utamanya adalah agar kita tidak mudah terseret opini dangkal, tidak menyerap informasi secara suka rela tanpa mengoreksi benar atau tidaknya.
Begitu pula adab digital, seharusnya menjadi landasan utama dalam menyampaikan pendapat di ruang maya, kesadaran untuk menahan diri, memverifikasi informasi, dan menghormati tokoh serta lembaga keagamaan yang telah berjasa. Tanpa adab digital, media sosial akan kehilangan fungsinya sebagai ruang dialog dan berubah menjadi arena saling menjatuhkan. Bahkan parahnya Mengkritik tanpa membaca sejarah sama saja seperti menilai pohon tanpa tahu akar yang menumbuhkannya.

Pesantren dan kiai bukan entitas yang sempurna, tetapi mereka telah menjadi bagian penting dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Kritik sah-sah saja disampaikan, tapi hendaknya dilandasi pengetahuan dan rasa hormat. Sudah saatnya kita semua belajar kembali, menata pengetahuan yang tak sempak kita amalkan atau bahkan kita lupakan sebab terlena oleh gawai.
Mari belajar kembali bukan hanya dari balik layar, akan tetapi dari lembar sejarah yang mencatat kenyataan betapa pesantren dan kiai adalah tiang pendidikan moral bangsa yang namanya tak pernah lekang oleh waktu dan tetap hidup bersama panji-panji pendidikan.
