Buku puisi M Aan Mansyur yang bertajuk Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau merupakan karyanya yang cukup fenomenal. Terlebih, saya merasa sangat terinspirasi atas kedatangan buku yang apik ini. Saya pikir bukan hanya saya, buku yang diterbitkan Gramedia ini tentu sangat menginspirasi bagi penyair-penyair yang lain.
Penyair M Aan Mansyur selalu piawai dalam merangkai kata-kata dalam buku ini. Saya pikir setelah kepergian mendiang Sapardi Djoko Damono (SDD), hanya M Aan Mansyur yang begitu kentara meneruskan perjuangan dari (SDD) melalui kaidah perpuisian dan kesusastraan Indonesia saat ini.

Di halaman 22, pembaca akan diajak untuk berimajinasi sejauh mungkin. Pada puisi yang berjudul “(Pertanyaan-pertanyaan)” tepat di bait ketiga, Aan Mansyur menulis puisi begini: mengapa darah lebih api daripada api? mengapa luka tidak memaafkan pisau—dan mata pisau bisa membayangkan dirinya sebagai cermin?
Aan Mansyur tidak hanya berpuisi tentang pertanyaan-pertanyaan luka yang tidak memaafkan pisau. Dirinya juga menulis puisi tentang kehidupan ibunya, puisi manis kepada istrinya, juga kepada anaknya, dan bahkan puisi pendewasaan ditujukan kepada dirinya sendiri ketika dirinya sadar menjadi ayah. Saya berpikir, sekomplit itulah Aan Mansyur menerjemahkan semuanya dalam puisi.

Terima kasih dunia santri