Memahami Pertanyaan Luka dalam Puisi-puisi M Aan Mansyur

Sebelum saya meresensi buku ini, baru kali ini saya membaca buku puisi (sekali duduk khatam) dalam waktu kurang lebih tiga jam. Bahwa, memang dalam buku setebal 98 halaman ini mempunyai romansa dan karakteristik tersendiri dari setiap bait ke bait lainnya, dan dari diksi-diksinya yang begitu kental. Sehingga saya begitu betah untuk membacanya.

Ilustrasi karya Lala Bohang begitu estetik dan memesona dalam buku ini. Sehingga tampilan dari buku yang berwarna dongker begitu merona dan luar biasa dan berani tampil beda dari buku-buku puisi yang lain. Ada sebanyak 41 puisi yang terbagi dalam 5 bab, bisa kita nikmati keindahan-keindahan panorama alam Makassar pada setiap larik sajaknya yang begitu puitis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saya merasakan sendiri setelah khatam membaca buku puisi ini dalam waktu sekali duduk itu, seolah-olah saya terkesima dalam satu karyanya yang berjudul “Jatuh Cinta”, salah satu puisi yang menurut saya sangat elegan. M Aan Mansyur dengan penuh percaya diri menuliskan puisinya begini: aku selembar kertas yang terbakar, tapi aku gegabah menganggap diriku api (hal. 34).

Saya mendengar kabar beberapa waktu yang lalu, bahwa karya yang ditulis oleh M Aan Mansyur ini mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) dalam Bulan Bahasa dan Sastra pada Oktober 2021. Tak hanya penghargaan itu, M Aan Mansyur juga kembali menerima penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun yang sama beberapa bulan yang lalu.

One Reply to “Memahami Pertanyaan Luka dalam Puisi-puisi M Aan Mansyur”

Tinggalkan Balasan