“Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak aku lihat,” kata Sayyidina Ali.
Keheranan sang sahabat bertambah dengan jawaban itu. Dia pun kembali bertanya, “Bagaimana engkau bisa melihat Tuhan?”

“Allah SWT tidak dilihat oleh mata atau di arah tertentu,” kata Ali. Dia diam sebentar sebelum melanjutkan penjelasannya. “Melainkan dengan hati dan ada di semua arah”.
Tuhan ada di hatimu. Pernyataan tersebut adalah sebuah metafora. Metafora ini hanya untuk menggambarkan bahwa sejatinya hati kita harus selalu ingat Tuhan. Jika hati kita sudah diisi Tuhan, kita tersadar bahwa semua yang kita lakukan dengan rahmat-Nya. Perlu diingat bahwa segala sesuatu juga harus diniatkan untuk ibadah yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar menjadi amal kita.
Banyak masyarakat awam sekarang salah kaprah dalam memaknai beribadah. Mereka memaknai beribadah harus berupa aktivitas fisik yang kaku. Seharusnya, manusia yang beriman menghadap ke mana pun, kita melihat kebesaran Allah yang membuat kita selalu ingat kepada-Nya. Bukan hanya di Kabah, tapi juga di gubuk-gubuk orang miskin, di rumah-rumah yatim, bahkan di lembaga pemasyarakatan. Masjid bisa roboh, Kabah bisa sepi, tapi hati manusia yang beriman akan abadi dalam ketaatan dan kecintaan pada-Nya.
Ada dua jenis ibadah yang harus diperintahkan Allah SWT. Ibadah yang pertama adalah ibadah ubudiyah. Ibadah tersebut terwujud dengan melaksanakan perintah-perintah Allah, misalnya salat, haji, dan puasa . Ibadah ubudiyah dikenal juga ibadah Hablumminallah.
Ibadah yang kedua adalah yang berkaitan dengan muamalah kepada manusia dan makhluk Allah, misalnya sedekah, utang-piutang, pinjam-meminjam, dan zakat. Ibadah mualamalah dikenal juga dengan ibadah Hablumminannas. Kedua ibadah tersebut tidak berdiri sendiri. Indikator adanya iman dan takwa yang kuat kepada Allah SWT pada masa Rasulullah SAW yaitu terciptanya ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan umat manusia).
Dewasa ini, masyarakat pada umumnya hanya terfokus kepada ibadah ubudiyah yang sebatas formalitas. Hal itu mengakibatkan masyarakat awam terjebak pada simbol agama, hitungan ekonomi–untung-rugi, bidah-sunah, pahala-dosa, dan sebagainya. Mereka hanya menawarkan dua warna: hitam atau putih.
