Memaknai Ibadah dalam Kehidupan Sehari-hari

Habib Husein berusaha melepas bias jebakan itu. Sebab, yang dilihat sebagai hitam atau putih barangkali hanya bungkus belaka. Ia mengajak pembaca agar tak berhenti pada yang tampak oleh mata. Karena, proses berpikir dengan akal dan batin yang tak tampak justru menjadikan kita jernih.

Buku ini akan membawa kita masuk dalam petualangan rohani untuk menemukan Sang Pencipta yang berdiam di dalam kita. Bahasa yang digunakan dalam buku ini lugas dan komunikatif sehingga cocok dibaca untuk semua orang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Husein Jafar Al-Hadar, Lahir di Bondowoso, Jawa Timur, pada 21 Juni 1988. Dari pengalamannya, tidak diragukan lagi, Husein aktif sebagai penulis sejak di bangku kuliah, membuat tulisannya tersebar di berbagai media massa terkenal Indonesia. Sehingga penulis rasa, Habib satu ini memang tidak bisa diragukan dari segi keilmuannya. Habib Husein sempat menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Bangil, Jawa Timur. Selain itu, Beliau juga menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan gelar Sarjana Filafat Islam (S.Fil.I). Beliau kemudian melanjutkan program master Tafsir Hadits di universitas yang sama.

Hal ini meyakinkan bahwa Habib Husain adalah sosok cendekiawan Islam yang tekun dalam tafaqquh fid diin (mendalami ilmu agama) dengan rentang waktu yang cukup lama. Narasi-narasi yang ia sampaikan kental akan nilai-nilai keislaman dan keagamaan.

Media sosial menjadi salah satu media yang dipilihnya karena melihat masyarakat menghendaki keberislaman secara instan, dengan dalih ingin berhijrah. Sehingga kebiasaan masyarakat saat ini, mereka ingin mengetahui Islam, namun tidak mau nyantri, belajar kitab, dan belajar bahasa arab. Sehingga keberislaman seperti inilah yang dirasa tidak sehat, dan dikhawatirkan Habib tidak akan komprehensif dan holistik sampai ke akarnya. Hal-hal tersebut yang melatarbelakangi untuk berdakwah untuk menyebarkan Islam yang kaffah.

Beliau mengambil langkah di media digital sejak dulu karena sering menulis di berbagai platform media massa. Habib Husein hanya konsen di kepenulisan. Ide-ide karyanya berangkat dari keresahan Habib, yang melihat media sosial  saat ini yang hanya diisi oleh konten negatif, ujaran kebencian, serta berita hoaks, lalu mendorongnya untuk tampil di depan layar.

Beliau juga berdakwah melalui channel YouTube: Jeda Nulis. Sekarang Jeda Nulis sudah di-subscribe lebih dari 200 ribu orang. Beliau juga keliling Indonesia, baik sendiri untuk memenuhi undangan dakwah, maupun bareng Coki, Muslim, dan Pendeta Yerry Pattinasarany untuk berdakwah toleransi dalam satu program yang dinamai Deep Talk. Habib Husein bisa diajak berdiskusi di Instagramnya @Husein_Hadar dan Twitternya @Husen_Jafar. Di media sosial tersebut Habib Husein juga berbinis dengan berjualan kaus yang diisi dengan desain quote-quote-nya yang bisa didapat di Instagram @JedaNulisStore.

Dari pengalaman berdakwahnya, Habib Husain memang tidak diragukan lagi. Pengikutnya di media sosial telah membuktikan bahwa karyanya memang mendapatkan apresiasi positif dari warga net. Dari pengalaman berdakwah dan pengamatan di media sosial, Habib Husein menulis Buku Tidak di Kabah, di Vatikan, atau di Tembok Ratapan: Tuhan Ada di Hatimu. Buku ini berisi nasihat cara menjadi muslim kaffah sesuai dengan syariat Islam. Buku ini cocok dibaca oleh semua kalangan karena penulis memilih diksi yang ringan-ringan sehingga mudah dipahami.

Tinggalkan Balasan