Dalam peristiwa itu, jika bukan atas saran Nabi Musa, boleh jadi salat bagi umat Islam tetap 50 kali, sebagaimana ketentuan semula yang Nabi menerimanya tanpa keberatan. Akan tetapi akhirnya hanya 5 waktu yang diwajibkan umat Islam untuk melaksanakan ibadah wajib ini. Inilah sifat ta’abudi atau ketaatan total Nabi kepada Allah.
Kemudian, pada dimensi ilahiyah peristiwa Isra Mikraj merupakan pertanda dan penanda kekuasaan Allah atas nubuwah atau kenabian Muhammad SAW dalam menunaikan misi Islam. Nabi sendiri tidak merekayasa peristiwa yang tidak mungkin terjadi lagi di masa sekarang.

Buku Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran menjelaskan, “Bagi mereka yang sedikit saja dapat memahami karakter kekuasaan ilahiah dan karakter nubuwah (kenabian), mereka pasti tidak akan melihat satu keanehan sedikit pun. Karena di hadapan kekuasaan ilahiah tidak ada perbedaan jarak antara semua bentuk pergerakan makhluk, yang sering tampak di mata manusia. Yang tampak dan yang terlihat di permukaan alam kasat mata manusia tidaklah tepat untuk jadi hakim dalam mengetahui kadar ukuran segala sesuatu, jika dibandingkan dengan ukuran kekuasaan Allah.
Memaknai Kembali
Saat ini kita telah masuk di era disrupsi, era 4.0, di mana terjadi inovasi dan perubahan secara besar-besaran terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini mengubah sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Maka mau tidak mau generasi muda harus sudah bersiap menghadapi segala kemajuan itu.
Besar harapan bangsa ini kepada generasi muda. Saat ini, peristiwa Isra Mikraj dapat dijadikan momentum refleksi diri dan menyandarkan segala urusan kita kepada Allah SWT. Di tengah keterbukaan informasi yang semakin tidak terbatas, membuat mindset dan cara berpikir bahwa apakah ada yang salah dari hidup kita? Mengapa kita seolah tertinggal dari teman-teman sebayanya dan hidup kita begini-begini saja, yang pada akhirnya kita terjebak dalam lomba lari yang tidak berujung. Itulah yang terjadi di era digital sekarang.
Maka sebetulnya Isra Miraj menjadi pelajaran berharga kita dalam meningkatkan nilai diri. Sebagaimana makna Mikraj itu sendiri yang artinya adalah naik. Maka di dalam kehidupan kita wajib menaikkan nilai diri sendiri. Memperbanyak amal ibadah, meningkatkan amal kebaikan, dan terus mengembangkan diri adalah sebagian dari perilaku Mikraj yang bisa kita lakukan.
