Memaknai Kembali Isra Mikraj di Era Disrupsi 4.0

Sejenak kita menengok ke belakang, di masa sekarang seharusnya dengan memperingati Isra Mikraj niscaya mengambil peran pencerahan sebagaimana jejak kerisalahan Nabi akhir zaman. Melalui gerakan pencerahan Islam, umat Islam Indonesia yang mayoritas harus tampil sebagai umat yang berkemajuan.

Kita pasti merindukan Islam di era abad ke-7 sampai abad ke-13 Masehi. Rentang masa itu sering disebut sebagai masa kejayaan Islam atau the Islamic Golden Age. Lahirlah tokoh-tokoh ulama sekaligus ilmuwan seperti Ibn Haitham, al-Biruni, al-Khawarizmi, dan sebagainya yang sangat berpengauh terhadap peradaban Islam. Pada masa itu peradaban Islam berhasil menjadi pusat perhatian dunia. Itulah yang kita harapkan pada generasi muda sebagai ujung tombak peradaban.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Melalui momentum Isra Mikraj menjadi pelajaran bagi generasi muda untuk betul-betul mengaplikasikan nilai-nilai luhur di kehidupan sehari-hari. Isra Mikraj melahirkan karakter pemahaman diri pada nilai sosial dan spiritual. Sehingga menyadarkan dan membentuk manusia yang theomorphis (ideal).

Di tengah zaman yang semakin luntur antara etika, moral, dan agama dibutuhkan pemikiran yang dipayungi nilai “ketuhanan” untuk melakukan pembebasan terhadap kemanusiaan. Dibutuhkan manusia theomorphis untuk membangun revolusi peradaban. Dibutuhkan saling mengkoreksi antara eksistensi dan esensi. Hal ini menjadi sangat penting mengingat sampai detik ini tradisi saling mengakfirkan, tindakan kejahatan, dan hilangnya rasa kemanusiaan masih sering terjadi.

Semoga Allah berkenan menjadikan kita semua istiqamah dalam iman, menjadi pribadi yang lebih baik dan selalu meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.

Selamat memperingati Isra Mikraj 1444 Hijriyah.

Tinggalkan Balasan