Memaknai Tahun Baru Hijriah

Kalender Hijriah sebagai dasar perhitungan hari-hari besar Islam seharusnya dijadikan kalender utama dalam keseharian. Namun, pada kenyataannya, kalender Islam ini digunakan sebagai kalender kedua setelah Masehi.

Tentu saja, keadaan ini tidak sama dengan negara-negara Islam yang secara langsung menggunakan kalender Hijriah sebagai kalender utama. Seperti Pakistan, Arab Saudi, Irak, Iran, dan negara-negara Islam lainnya menggunakan kalender Hijriah sebagai kalender keseharian. Di Pakistan yang penggunaan kalender Hijriah baru-baru saja ditetapkan, tujuannya adalah untuk menghindari kontroversi (ikhtilaf ulama) dalam penentuan awal Ramadan dan penentuan tanggal-tanggal penting lainnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jadi, dengan demikian, kalender Hijriah tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebab kalender yang lahir pada masa sahabat ini memiliki peran yang sangat strategis dan signifikan dalam penentuan hari-hari bersejarah dan sebagian pula sebagai dasar perhitungan ibadah. Sehingga dalam berbagai penetapan tanggal tertentu tidak terjadi perbedaan atau setidaknya meminimalisasi perdebatan dalam menentukan tanggal-tanggal bersejarah dalam Islam.

Tradisi 1 Muharram

Kalender Hijriah terdiri dari Muharam, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Syakban, Ramadhan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. Nama-nama bulan qamariyah ini didasarkan pada perputaran bulan dalam sekali mengelilingi bumi. Dalam satu tahun Hijriah berjumlah 354 hari. Dalam satu bulan qamariyah ini terjadi 29 atau 30 hari. Dalam setahun ada 12 bulan, sama dengan jumlah bulan dalam tahun Masehi.

Di berbagai daerah di Indonesia terdapat tradisi-tradisi dalam merayakan Tahun Baru Hijriah. Sama seperti pada bulan-bulan khusus lainnya, di tahun baru, 1 Muharram, biasanya diadakan berbagai macam kegiatan yang merupakan tradisi dalam suatu daerah tertentu.

Misalnya di Madura bagian timur ke utara, daerah Batuputih, dalam merayakan 1 Muharram (Sura) dengan membuat bubur sura. Bubur ini dimaksudkan sebagai bagian dari menghormati 1 Muharram saat memasuki tahun baru Hijriah. Kemudian bubur sura ini juga disedekahkan kepada para tetangga sebagai bentuk syukur atas nikmat kesehatan dan keselamatan serta nikmat bertambahnya umur.

Tinggalkan Balasan