Selain itu, di tempat lain, 1 Muharram diperingati dengan pawai obor. Di malam tersebut masyarakat terutama anak-anak yang didampingi orang tua membawa obor berkeliling kampung sambil melantunkan zikir atau selawat. Arakan obor dimaksudkan sebagai bentuk metafor untuk membakar nilai egoisme diri, serta menghanguskan keangkuhan, kesombongan, dan dimensi etik buruk lainnya.
Dan masih banyak lagi tradisi-tradisi masyarakat lainnya, seperti jamasan pusaka, yaitu memandikan senjata tradisional setempat misalnya keris, golok, klewang, tombak, dan lain sebagainya. Memandikan pusaka tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Orang tua adat yang berhak untuk melakukan jamasan pusaka dengan ragam ritual yang harus dilakukan. Lainnya lagi seperti sedekah laut, kirab sura, tapa bisu, dan lain sebagainya. Itu semua dilakukan karena bulan Muharram dipandang sebagai bulan yang penting menurut adat Islam.

Membiasakan Tahun Hijriyah
Sebagai seorang muslim, utamanya sebagai seorang santri yang setiap saat bergelut dengan dunia religius, Islam, maka sudah seharusnya menggunakan kalender Hijriah sebagai kalender keseharian. Setidaknya kita harus mengetahui kapan hari-hari besar Islam itu akan terjadi sehingga kita dapat mempersiapkan diri untuk menyambut hari besar tersebut. Di Indonesia, penggunaan kalender masih diutamakan kalender Masehi. Akan tetapi, untungnya, di banyak kalender dicetak dengan dua format, yaitu kalender Masehi dan kalender Hijriah.
Pemuatan dua kalender sekaligus memberikan dampak positif, sehingga kita bisa melihat dua kegiatan sekaligus dalam acara-acara besar nasional maupun hari-hari besar Islam. Sebagai umat muslim menggunakan kalender Hijriah merupakan sebauh keniscayaan. Karena kita tidak akan terpisahkan dengan kebiasaan-kebiasaan yang didasarkan pada momen khusus kalender Hijriah. Akan tetapi, jika kita lihat di dalam kehidupan sehari-hari, hampir bisa dipastikan seorang siswa (muslim) tidak hafal dengan penanggalan Hijriah. Memang cukup disayangkan, tetapi di beberapa tempat, terutama lingkungan pesantren (?), kalender Hijriah menjadi kalender utama dan diutamakan.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita semua, umat muslim tanpa kecuali, untuk “kampanye” kalender Hijriah. Agar ke depan, kita semua tidak harus melihat kalender lebih dulu ketika ditanya tanggal berapa dalam kalender Hijriah. Ujian ini tidak mudah, sebab kalender Hijriah dipandang sebagai almanak kedua yang bahkan hampir-hampir tidak ditengok ketika melihat sebuah jadwal acara.
Kewajiban kita adalah mendorong penggunaan kalender Hijriah dalam keseharian. Menggunakan produk sendiri yang digagas oleh Umar bin Khattab, diusulkan oleh Ali bin Abi Thalib, serta disetujui oleh para sahabat meski dengan diskusi yang sangat alot. Sebagai bentuk penghormatan kepada mereka, mari kita marwahkan kalender Hijriah dengan segenap ikhtiar untuk memaksimalkan penggunaan kalender Islam ini. Wallahu A’lam!
