Memartabatkan Madrasah Indonesia

Memartabatkan Madrasah Indonesia

Meningkatkan Mutu Madrasah

Diaroma pendidikan madrasah Indonesia untuk lekas meningkat menjadi madrasah hebat bermartabat dan berkelas dunia, butuh upaya penyusunan, tinjauan, dan peningkatan budaya mutu madrasah yang baik pula. Menurut Umar, setidaknya ada lima yang harus dilakukan madrasah agar menjadi madrasah yang hebat bermartabat, dan lulusannya berprestasi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertama, pengembangan kurikulum dan pembelajaran yang baik. Karena kurikulum adalah alat ukur untuk mencapai tujuan pendidikan yang dimanis, maka madrasah perlu merancang kurikulum yang sesuai dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan, tekonologi, dan agama. Di sini, pengembangan kurikulum harus dilaksanakan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari pendidikan nasional dan internasional. Menurut Umar, perwujudan prinsip, aspek, dan konsep kurikulum ini terletak pada seorang guru.

Artinya, guru memiliki tanggung jawab terhadap tercapainya tujuan kurikulum. Guru boleh menyarankan, mengubah, atau menambah kurikulum madrasah. Namun bagi Umar, kurikulum tidak sepenuhnya harus diganti. Melainkan kurikulum bisa dimodifikasi, atau diinovasi sesuai kreativitas guru supaya hasilnya bermutu dan dapat mengantisipasi perubahan zaman. Sekaligus bisa merespons tuntutan zaman.

Tujuan peningkatan mutu kurikulum ini, untuk menyiapkan peserta didik madrasah agar mampu beradabtasi dengan perubahan dan gempuran zaman. Praksisnya, di sini kurikulum harus mampu mengarahkan peserta didik tangkas dalam sains-teknologi, memiliki kesadaran pada prinsip agama Islam, dan dapat menginternalisasikan dalam praktik kehidupan, yakni menjalankan syariat Islam terkait hubungannnya dengan Allah, maupun juga dengan sesama manusia dan alam semesta.

Kedua, mengintegrasikan pelajaran agama dan sains. Seorang anak sangat perlu pengenalan ilmu agama dan sains. Agar dapat belajar agama dengan benar dan tidak menjadi radikal-ekstrem. Begitu juga dengan materi umum, harus didekati dengan pendekatan agama supaya tidak sekuler. Menurut Umar, implementasi dari model ajaran integrasi Islam dan sains di atas, peserta didik dapat belajar agama seperti rukun iman dan rukun Islam, belajar matematika, dan belajar lingkungan melalui metode bermain, bernyanyi, dan diskusi.

Bagi Umar, melalui model rancangan kurikulum seperti inilah, diharapkan anak didik dapat berkaraker baik, moderat, menjadi generasi hebat, bermartabat, dan bemutu. Model ini juga menjadi kesan bahwa tidak ada dikotomi dalam pembelajaran madrasah.

Ketiga, menciptakan budaya mutu madrasah yang tertib dan baik. Untuk menciptakan budaya ini, wajib kiranya berangkat dari dan melengkatkan ajaran-sifat Rasul pada anak didik. Di mana, nantinya, peserta didik dapat menerapkan sifat-sifat kerasulan. Seperti berbudaya jujur (shidqu), budaya saling percaya (amanah), budaya komunikasi (tabligh), dan berbudaya kecerdasan (fathanah).

Keempat, membuat kriteria atau profil guru yang hebat bermartabat. Dalam konteks ini, madrasah dapat menghadirkan guru profesional. Sebab, guru merupakan tumpuan dan poros utama dalam menggerakkan seluruh kegiatan akademik maupun non-akademik, di dalam maupun di luar madrasah. Guru profesional di sini bukan hanya cakap dalam adminitrasi, tapi memiliki ketekunan, kesabaran, keikhlasan, dan visi perjuangan yang kuat.

Tinggalkan Balasan