Ketiga, rahayuning manungsa dumadi karana kamunangsane (keselematan manusia oleh kemanusiaannya sendiri). Kemanusiaan adalah sifat yang paling tinggi dalam diri seorang manusia. Kemanusiaan berarti memanusiakan manusia dan melayani manusia lebih baik dari ia melayani dirinya sendiri. Hal ini tentu akan menciptakan asas kebermanfaatan kepada sesame manusia. Sehingga tentu filosofi luhur ini juga sejalan dengan yang diajarkan Rasulullah, bahwa umat Islam itu ibarat satu tubuh. Jika salah satu tubuh terluka, maka tubuh yang lain akan merasakan sakit. Dan juga, ajaran Rasulullah bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat.
Filosofi Memayu Hayuning Bawana rupanya mengandung misi akbar bagi manusia di dunia dalam tiga subsatnsi, yaitu: hamengku bawana, hamengku nagara, hamengku bumi. Tentu tiga substansi itu akan melahirkan manusia sebagai jalma kang utama, atau biasa disebut makhluk yang terbaik. Dalam kaidah Islam, sifat seperti ini disebut ‘ahsanu taqwim’.

Manusia yang sudah menjadi manusia sejati akan bisa menyeimbangkan perannya sebagai manusia dengan kewajibannya kepada alam semesta. Sehingga konsep rahmatan lil ‘alamin bukanlah konsep yang diberikan untuk Rasulullah saja, melainkan konsep umum yang ditugaskan untuk kita sebagai manusia modern atau manusia post-modern ini. Oleh sebab itu, konsep rahmatan lil ‘alamin bukanlah sebuah konsep yang datang begitu saja, melainkan sebuah konsep yang mengharuskan manusia untuk memahami jati dirinya terlebih dahulu, dan memahami peran kehidupannya. Hingga puncaknya adalah menjadi manusia yang insan kamil, yang menjadi jalma kang utama, atau menjadi manusia yang rahmatan lil ‘alamin.
