Memayu Hayuning Bawana

Dalam buku Strategi Kebudayaan yang ditulis oleh Nasruddin Anshoriy, dijelaskan bahwa Memayu Hayuning Bawana mengandung tiga unsur dasar yang dibebankan kepada umat manusia, biasanya disebut Tri Satya Brata.

Pertama, rahayuning bawana kapurba waskitaning manungsa (kesejahteraan dunia tergantung manusia yang memiliki ketajaman rasa. Hal ini adalah kewajiban bagi umat mansia untuk menjaga tempat yang saat ini kita pijak berdasarkan dengan intuisi rasa yang sudah diberikan Tuhan dalam setiap diri manusia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tentu saja sebuah rasa hadir dalam diri manusia yang sudah sering mengolahnya, sehingga rasa tidak tegaan dan rasa belas kasih sering muncul saat melihat fenomena-fenomena yang tidak seharusnya. Oleh sebab itulah manusia yang mempunyai kepekaan rasa tak akan pernah menebang pohon secara liar hanya demi keuntungan uang dan urusan perut. Tidak hanya itu, orang yang terlatih mengolah rasa pasti sudah mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, lebih lagi mana yang pantas dan mana yang tidak pantas.

Kedua, darmaning manungsa mahanani rahayuning negara (tugas manusia adalah menjaga keselamatan negara). Sebagai kewajiban seorang manusia yang hidup dalam aturan negara dan dalam ruang lingkup global, manusia sejati pasti memahami bahwa negara adalah kepentingan kelompok yang majemuk dan bukan kepentingan individua tau golongan tertentu. Manusia yang memahami bahwa “negara adalah bagian dari dirinya” akan senantiasa memberikan sedekah atau pengorbanan kepada negara. Ia tidak terus menuntut kepada negara melainkan memberikan kontribusi kepada negara. Oleh karena itu, pejabat yang sedang menjabat seharusnya memiliki kepekaan terhadap sifat ini sehingga program kerjanya bukan hanya untuk memuaskan isi dompetnya melainkan karena kewajiban berat untuk menjaga negara yang ia pijak. Dan sepertinya filosofi nenek moyang ini juga didakwahkan oleh KH Wahab Chasbullah dalam lagunya, ‘Hubbul Wathon Minal Iman’.

Tinggalkan Balasan