MEMBACA
Ikan-ikan di kepalaku mulai berenang
Menggerakkan sirip-sirip keingintahuan
Kuceburkan mata pada huruf-huruf
di halaman buku
Lalu ia berenang sesuka-suka.
Kadang, aku tersesat pada hutan kalimat
Yang membuatku harus
Membuka kompas pada kamus abjad
Dari ingatan-ingatan yang sudah lama hilang.

Kuangkat jangkar yang mencengkeram kuat
Dari dasar jiwa
Kuarahkan kemudi menuju taman pengetahuan
Angin datang, menabuhi pundak
Rasa dinginnya tumpah ke dalam sumsum tulang
Bersama kunang-kunang yang menolak redup
Di sudut gua-gua kealfaan.
sungai-sungai mata air mata mengucur,
merambati hati yang tandus
Malang, 23 Juli 2026.
HUJAN
Teruntuk sahabatku: M. Nafais
Kulihat hujan berjatuhan seharian dari bola matamu
Hingga menggenang menjadi danau
Tapi ikan-ikan di dalamnya
tak berkecipak riang seperti biasa
ternyata mereka bertapa,
sembari berzikir
seperti suara-suara
Yang sering terdengar
Dari lorong dapur
Tempat doa-doa
Berendam dalam kuah masakan
Kemudian mengalir
berdiam dalam rawa hatimu
Ia takkan pernah terbawa arus
Meski gelombang mengoyaknya
membawa tangan
Yang sering mengelusnya
Ia bersuci dengan cinta
Lalu menunaikan ibadah
Sebagaimana mestinya
Di depan tungku penantian
Jika mendung nampak dalam langit wajahmu
Jangan ragu, untuk kembali
Meraih air
Yang menyimpan kesucian cintanya.
Malang, 24 Juli 2026.
ORKESTRA MANUSIA DARI BILIK SIRKUS
Aku tubuh tanpa nama,
Bahkan tanpa usia,
tak mengenal kata ibu dan ayah
Hidupku penuh tawa yang disekap
Kaki yang dipasung
Tangan yang dijerat
Dan tubuh yang digantung
Di atas dinginnya tawa palsu
Demi receh-receh yang ditabung
Atas nama ‘penyiksaan’
Jika kau bertanya, “apa aku mengenal kata dan huruf?”
Kujawab sederhana, hanya A-Z yang tak sempurna.
Tubuh kecilku renta
Tanpa hak yang penuh
Tanpa pendidikan yang utuh
Aku kecil hanya kenal kerja, kerja, dan kerja
Berputar dan bermain di atas tawa manusia
Tak tahunya, jiwa kami rapuh
Dalam cangkir siksa yang mendidih
Hidupku bagai mati dikurung
Tak kenal pasar tak kenal jalan raya
Aku kecil hanya buruh
yang tak digaji
dengan rupiah manapun
Sari, gadis yang terlihat lebih tua dariku
Menatap hangat sepotong rendang di atas piring
Ia bergegas mendekat
Mengambil sigap dengan tangan mungil
Yang tak kenal mana kasih dan siksa
Ia tersesat pada kamus pilihannya,
ia tak menemukan kamus kasih
Ia hanya menerima duka
Dari tangannya yang awam
Mulutnya bungkam, tak bersuara
Menjadi saksi atas matinya ‘kemanusiaan’
kulihat delapan bibit
merangkak dalam rumah tua penuh luka itu
“Akankah kalian bernasib sepertiku, duhai bayi malang?”
Ketika aku kecil cukup dewasa,
Berusaha menemukan bebas
Mengurai jeruji yang terkunci
Aku kembali, dengan tangan kosong tanpa isi
Suara kami dianggap bisu
Atau telinga mereka yang tuli?
Tubuh kami dianggap lumpuh
Atau mata mereka yang buta?
Aku kembali
Pada panggung yang ramai itu, hatiku sepi
Pada tempat duduk yang hangat itu, jiwaku dingin.
Kusaksikan Lani, ia jatuh terkulai
Ia meringkih dengan nada yang pedih
Di belakang panggung,
Begitu sepi akan pertanyaan kasih.
Malam itu sunyi, sesunyi jiwa Lisa yang berselimut luka.
2024.
Sumber ilustrasi: deposit photos.
