Membaca Kembali “Guruku Orang-orang Pesantren”

Semangat Kebangsaan

Buku ini juga menegaskan sesuatu yang sering dilupakan: bahwa pesantren adalah benteng kebangsaan. Di masa penjajahan, para santri bukan hanya mempelajari fikih dan tauhid, tetapi juga menumbuhkan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saifudin Zuhri menulis dari pengalaman hidupnya sendiri, ketika para kiai dan santri ikut menggerakkan perjuangan kemerdekaan. Ia menyaksikan bahwa keislaman dan keindonesiaan tidak bertentangan. Justru dari rahim pesantren lahir semangat cinta tanah air yang berakar pada iman.

Bagi Zuhri, nasionalisme bukan ide impor, tapi buah dari keyakinan bahwa menjaga negeri adalah bagian dari ibadah. Pandangan ini terasa relevan hari ini, ketika sebagian orang masih mempertentangkan agama dan negara. Pesantren telah lebih dulu membuktikan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari cinta kepada Tuhan.

Menguji Romantisme Santri

Namun membaca Guruku Orang-orang Pesantren tanpa jarak kritis bisa menimbulkan romantisme. Cinta Zuhri pada pesantren begitu dalam, sampai kadang menutupi sisi gelap dunia pendidikan. Pertanyaannya: apakah pesantren masa kini masih seideal yang digambarkan?

Pesantren hari ini berhadapan dengan arus modernisasi yang cepat. Banyak yang bertransformasi menjadi lembaga formal dengan kurikulum modern dan fasilitas lengkap. Perubahan ini tentu tak salah, tetapi kadang membuat pesantren kehilangan ruhnya: keintiman antara guru dan murid, ketulusan dalam mencari ilmu, dan keikhlasan dalam mengajar.

Dalam konteks itu, buku ini bukan hanya nostalgia, melainkan cermin. Ia mengajak kita melihat apakah nilai-nilai keikhlasan dan pengabdian masih hidup di balik megahnya gedung dan administrasi modern. Apakah semangat “madrasahku cuma langgar” masih terasa di tengah logika efisiensi dan sertifikasi?

Krisis Adab Digital

Tinggalkan Balasan