Islam Nusantara itu sendiri sangat beragam. Meski ada padangan yang Jawasentris, seakan yang paling Nusantara itu adalah Islam Jawa, namun kita perlu memahami bahwa Islam Nusantara itu Aswaja (Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah) bukan as-Jawa (sebagai-Jawa). Islam Jawa adalah satu di antara keragaman ekspresi Islam Nusantara. Sebab, tidak hanya Muslim Jawa, melainkan setiap masyarakat Muslim di kawasan ini punya ekspresi khasnya.
Keragaman ekspresi misalnya nampak pada tradisi tahlilan. Tradisi yang umum bagi masyarakat Muslim Nusantara, namun dalam pelaksanaannya punya banyak varian di berbagai daerah. Di Bolaang Mongondow, pelaksanaan tahlilan, yang disebut Mintahang, sebelum membaca tahlil dan doa oleh jiou (pemimpin agama), lebih dahulu membaca Monginsingok atau doa dalam bahasa Mongondow oleh dewan adat. Di Gorontalo, pelaksanaan tahlilan khususnya 40 malam diwarnai pembagian Bako-hati (kotak berisi sedekah).

Monginsingok khas Islam Bolaang Mongondow, dan Bako-hati khas Islam Gorontalo. Dua hal ini tidak ditemukan dalam tradisi tahlilan varian Islam Jawa. Ya, mungkin ada unsur yang mirip, seperti di Jawa ada pengantar pembuka dengan bahasa Jawa dan pembagian sedekah dengan cara Jawa, namun itu tidak berarti sama. Dalam bahasa Antropologi, ini bisa disebut family resemblance (kemiripan keluarga), di mana ada tradisi-tradisi masyarakat Muslim di Nusantara yang mirip, bukan berarti sama. Di balik kemiripan, seperti varian tahlilan, kita dapat melihat keragaman budaya masyarakat Muslim di kawasan ini.
Pelaksanaan tahlilan yang beragam, itu hanya satu dari keragaman pengamalan masyarakat Muslim Nusantara. Dalam hal relasi adat dan agama ada perbedaan antara Islam Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan lainnya. Pemakaian jilbab dalam realitas historis Nusantara juga amat beragam, dari cadar, jilbab panjang, hingga kudung, semua ada. Tradisi ulama dan pendidikan Islam juga amat beragam; Kiai-Pesantren, Buya-Surau, Abuya-Dayah, Jiou-Sabuah, dan lainnya. Serta banyak lagi keragaman budaya Islam Nusantara.
Dalam keragaman ini, kita tidak boleh terjebak pada, apa yang Talal Asad dalam What is Islam? sebut sebagai, prescriptive authority (otoritas yang membatasi). Maksudnya, Islam Nusantara yang otentik tidak berdasarkan pada wajah Islam tertentu, seperti padangan yang Jawasentris, as-Jawa, seakan yang paling Nusantara itu Islam Jawa. Tidak bisa demikian. Itu cenderung mengabaikan realitas keberagaman masyarakat Muslim Nusantara.
Nalar Islam Nusantara perlu mengedepankan cara berpikir yang explorative authority/the authority to explore (otoritas yang eksploratif). Artinya, kita melihat secara eksploratif bahwa, ekspresi-ekspresi masyarakat Muslim di Nusantara sebagai Islam Nusantara yang otentik. Sebab, setiap suku, masyarakat Muslim, yang ada di kawasan ini punya realitas keislaman dan wajah Islamnya yang khas.
Sebagai tambahan, dalam hal diskursus Islam Nusantara, kita tahu bahwa NU adalah ormas Islam yang amat serius mengampanyekan Islam Nusantara. Tidak heran kalau kemudian ada yang menyalah-artikan Islam Nusantara sebagai identitas milik NU semata. Padahal, IsNus (Islam Nusantara) bukan semata Is-NU (Islam NU). Ini tidak jauh beda pada kasus as-Jawa, bahwa Islam Jawa dan termasuk Islam NU adalah bagian dari keragaman, jadi bukan satu-satunya, ekspresi Islam Nusantara. Artinya, selain NU juga dapat menafsirkan cara berislam Nusantaranya.

Ajiib.. 👏🏼👍🏼